Mataredaksi.com, BASEL – Hasil imbang 1-1 melawan FC Copenhagen membuat pemain Basel merasakan campur aduk. Di satu sisi, mereka percaya mampu bersaing, tetapi di sisi lain, tim kehilangan ketenangan saat pertandingan menentukan.
Dominik Schmid mengaku sedikit marah. Menurutnya, timnya seharusnya bisa lebih maksimal. “Kami bermain lebih baik di babak pertama, bertahan solid, dan hampir tidak kebobolan dari setiap set piece. Namun, tempo kami menurun, dan Kopenhagen menemukan ritme mereka”, ujar Schmid.
Kesalahan timnya pada menit ke-82 memudahkan Kopenhagen menyamakan skor. Xherdan Shaqiri menambahkan, “Hasilnya masih baik, tapi kami membuat hidup kami sendiri lebih sulit. Mereka juga tidak bermain sempurna”.
Kapten Basel itu menyinggung situasi penggantian pemain, khususnya Jonas Adjetey yang menerima kartu kuning kedua dan belum diganti lebih awal.
Adjetey menjadi figur tragis permainan, tapi Shaqiri menegaskan bahwa para pemain muda Basel, banyak yang tampil pertama kali di kualifikasi Liga Champions, memang masih menunjukkan sedikit kegugupan.
Meski begitu, peluang masih terbuka lebar. Schmid menekankan, “Kita tahu bisa menahan Kopenhagen. Semuanya masih bisa diatur di leg kedua”. Shaqiri menegaskan tim Basel tak akan menutup diri di pertandingan tandang di Ibu Kota Denmark pekan depan, walau sadar menghadapi tekanan di markas lawan.
Sejarah menunjukkan, tim Swiss bisa memanfaatkan pertandingan tandang untuk menampilkan performa maksimal. Basel kini harus meniru jejak Young Boys setahun lalu, yang sukses menang di Istanbul saat menghadapi Galatasaray, demi kesempatan kembali ke Liga Champions setelah delapan tahun. (MR-01)






