Perubahan Iklim Nyata & Dampaknya bagi Indonesia
Mataredaksi.com, BOGOR – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa data global membuktikan perubahan iklim adalah kenyataan. Data terbaru menunjukkan suhu udara global telah meningkat ke level kritis, mengancam ketahanan pangan dan infrastruktur Indonesia.
“Grafik suhu udara global sejak 1850 hingga 2025 menunjukkan kenaikan signifikan mulai 1975 dan melesat secara eksponensial. Tahun 2024 tercatat terpanas sepanjang sejarah, naik 1,55°C dari periode pra-industri”, ujar Dwikorita di Rapat Koordinasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan Iklim di Kantor Pusat BMKG dilansir Mataredaksi, Sabtu (27/9/2025).
Kenaikan suhu ini melampaui batas aman yang disepakati untuk dicegah pada 2100. Sepuluh tahun terakhir (2015–2024) menjadi periode terpanas sepanjang sejarah. Tren serupa tercatat di seluruh kota besar Indonesia, dengan Jakarta mencatat kenaikan 1,6°C per 100 tahun.
Tren Curah Hujan Ekstrem dan Kerawanan Kekeringan
Dwikorita menekankan bahwa perubahan suhu menyebabkan pola curah hujan ekstrem. Sebagian wilayah menjadi lebih basah, memicu banjir, sedangkan wilayah lain kering, menimbulkan krisis air. FAO memproyeksikan hingga 2050, kerawanan pangan global meningkat jika suhu terus naik.
“Indonesia harus memastikan infrastruktur tangguh untuk mengurangi kerawanan pangan dan air dalam 25 tahun ke depan”, tegas Dwikorita.
Data 33 tahun terakhir (1991–2024) menunjukkan curah hujan ekstrem (>150 mm/hari) semakin merata. BMKG meminta data ini menjadi acuan Kementerian PU dalam merancang infrastruktur pengendalian bencana.
Infrastruktur PU Disesuaikan dengan Data BMKG
Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, menegaskan komitmen memperkuat infrastruktur menghadapi ancaman banjir dan kekeringan. Infrastruktur baru akan disesuaikan dengan tren ekstrem suhu dan curah hujan.
Diana memprioritaskan akselerasi irigasi yang rampung 2026 dan pemetaan ulang bendungan baru, khususnya di NTT dan selatan Jawa, untuk memastikan pasokan air baku. Ia juga menekankan pemeliharaan intensif jalan, jembatan, dan antisipasi longsor.
“Konstruksi harus mengikuti SNI terbaru, memperhitungkan daya serap tanah dan limpasan air. Integrasi data BMKG menjadi dasar setiap desain infrastruktur”, jelas Diana.
Kolaborasi Data Ilmiah untuk Sistem Peringatan Dini
Diana menambahkan, sistem peringatan dini harus memberi informasi beberapa hari hingga seminggu sebelum bencana. Kolaborasi BMKG dan Pusdatin PU sangat vital agar tim lapangan dapat melakukan antisipasi lebih awal. “Kami ingin masa depan Indonesia lebih aman dan tangguh dari risiko bencana hidro-meteorologi”, pungkas Diana.(MR-01)






