Kritik Mourinho untuk Serie A

Hegemoni Kompetisi Meredup

EKSPRESI khas José Mourinho, yang saat ini menjabat sebagai pelatih kepala klub Süper Lig Turki, Fenerbahçe Spor Kulübü. (Sumber Foto: Getty Images)

Mataredaksi.com, ROMA – Siapa tak tahu hegemoni Serie-A, khususnya di era 1990-an. Liga ini bagai jadi magnet bagi pesepakbola mancanegara. Tak hanya itu, liukan olah bola para bintang lokal pun begitu menggoda.

Namun kini, daya tarik itu seolah sirna. Entah apa yang salah. Yang pasti, pelatih sekaliber José Mourinho tak sungkan mengkritik liga yang pernah melahirkan pemain bintang sekelas Paolo Maldini, Francesco Totti, Alessandro Del Piero dan terakhir Andrea Pirlo.

Serie A harus bangkit dari naluri putri tidur. Begitu kata Mou, sapaannya menanggapi popularitas Serie A yang perlahan terlupakan, hingga kini nyaris tenggelam.

Pernyataan ‘The Special One’ ini memang bukan tanda dasar. Ia sendiri memang punya guratan prestasi mentereng selama melatih tim Serie-A. Tercatat, Inter Milan dan AS Roma, pernah ditukangi Mou. Bahkan, saat membesut Inter, Mou sukses menjadikan Inter Milan sebagai satu-satunya tim Serie A yang berhasil menyabet Treble Winner.

Usai itu, Mou sendiri sempat hengkang ke Real Madrid Club de Fútbol, Chelsea Football Club, Manchester United hingga Tottenham Hotspur. Sebelum akhirnya berlabuh ke AS Roma. Disini, ia tidak hanya menciptakan drama, tetapi juga membangun prestasi.

Dalam waktu singkat, ia membawa “i Giallorossi” (kuning-merah) sebutan AS Roma menjuarai UEFA Conference League – gelar Eropa pertama klub itu sejak 1961.

Tak hanya itu, ia pun berhasil menjadikan para pemain muda, seperti Tammy Abraham dan Nicola Zalewski sebagai figur penting, dan membangun tim yang memiliki karakter keras khas sepak bola Italia.

Lebih dari itu, Mourinho memperlihatkan bahwa sepak bola Italia masih punya taji di level Eropa. Ia membawa Laskar ‘Kuning-Merah’ ke final UEFA Europa League atau Liga Eropa UEFA 2023, mengalahkan tim-tim mapan, seperti Real Sociedad de Fútbol dan Bayer 04 Leverkusen.

Meski kalah di final dari Sevilla Fútbol Club, dunia kembali membicarakan klub Italia, bukan karena skandal, tapi karena kualitas. Efek domino pun mulai terasa tidak hanya untuk AS Roma.

Terlepas dari itu, teknisi pemilik nama José Mário dos Santos Mourinho Félix ini mungkin bukan pelatih terbaik secara taktik hari ini, tapi ia adalah jawaban mutlak bagi kebutuhan Serie A: menjadi liga yang kembali dilihat dunia. Dalam dunia yang lapar akan cerita dan sensasi, Mourinho memberikan itu semua – dan lebih. (MR-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *