Mataredaksi.com, CIANJUR – Siti Maesaroh (35), janda asal Kampung Rawa, Desa Padajaya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sudah puluhan tahun berjuang dengan gangguan penglihatan. Kondisi matanya kian parah: satu mata gelap total, sementara mata lainnya hanya mampu melihat samar.
Ironisnya, ibu empat anak ini tak mampu berobat karena himpitan ekonomi. Fatimah, saudaranya, mengaku sempat berencana membawa Siti ke rumah sakit di Bandung. Namun, tunggakan iuran BPJS Kesehatan membuat upaya itu terhenti.
“Penglihatannya sudah tidak normal. Mau dibawa ke Bandung, tapi mentok di ongkos dan biaya”, kata Fatimah, Selasa (9/9/2025).
Derita Siti semakin berat karena anak ketiganya mengalami patah tangan akibat terjatuh saat mengejar layangan. Sejak bercerai, Siti harus mengurus semua kebutuhan anak-anaknya seorang diri. “Saudara saya ditelantarkan suaminya, lalu diceraikan”, ungkap Fatimah.
Untuk bertahan hidup, Siti hanya mengandalkan bantuan sosial dan pinjaman keluarga. Namun, bulan ini bantuan pangan non-tunai (BPNT) sebesar Rp600 ribu belum cair.
“Kalau tidak ada bantuan, biasanya pinjam dari saudara. Kadang saya juga sering bawakan makanan kalau mampir”, tambah Fatimah.
Kisah Siti Maesaroh menjadi potret warga miskin yang membutuhkan perhatian lebih, terutama akses kesehatan dan jaminan sosial. (MR-04)






