Parlemen Eropa Desak FIFA Selidiki Infantino soal Skorsing Folarin Balogun

Awal Polemik Skorsing – Wasit Raphael Claus mengacungkan kartu merah langsung kepada penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Santa Clara, California, Kamis (2/7/2026) pagi WIB. Pencabutan skorsing Balogun setelah insiden tersebut kini memicu desakan anggota Parlemen Eropa agar FIFA menyelidiki Presiden Gianni Infantino. (Sumber foto: @brfootball/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – Puluhan anggota Parlemen Eropa kini menggalang dukungan untuk mendorong penyelidikan terhadap Presiden Fédération Internationale de Football Association (FIFA), Gianni Infantino. Mereka mempersoalkan keputusan sepihak FIFA yang mencabut skorsing penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, di tengah bergulirnya Piala Dunia FIFA 2026.

Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat menumbangkan Bosnia dan Herzegovina pada 1 Juli 2026. Sanksi kartu merah tersebut semestinya memaksa penyerang berusia 25 tahun itu absen pada pertandingan berikutnya.

Dugaan Intervensi Donald Trump

Namun secara mengejutkan, FIFA kemudian membatalkan sanksi tersebut sehingga Balogun dapat kembali merumput pada hari Senin. Isu yang beredar menyebutkan bahwa keputusan kontroversial ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan intervensi langsung kepada Infantino demi menyelamatkan Balogun.

Soroti Dugaan Kuat Tekanan Politik Amerika Serikat

Tiga anggota Parlemen Eropa, yaitu Barry Andrews, Lara Ianthe Wolters, dan Niels Fuglsang, menilai bahwa keputusan FIFA tersebut telah mencederai nilai keadilan dalam sepak bola. Oleh karena itu, mereka menganggap perubahan aturan terkait hukuman kartu merah saat turnamen sedang berjalan sebagai tindakan yang keliru.

“Sekali lagi, kami melihat Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump”, demikian bunyi pernyataan bersama mereka.

Hingga saat ini, sebanyak 35 anggota parlemen sudah menandatangani surat resmi yang mendesak pemeriksaan menyeluruh terhadap Infantino.

Tuntut Komite Etik FIFA Segera Bertindak

Selanjutnya, para anggota parlemen meminta asosiasi sepak bola nasional dari negara-negara Uni Erpa untuk mengambil langkah konkret. Mereka menuntut agar asosiasi tersebut mendesak Komite Etik FIFA mengusut tuntas proses pencabutan skorsing Balogun.

Langkah penyelidikan ini bertujuan untuk memastikan apakah tekanan dari pemerintahan Trump memengaruhi keputusan independen FIFA. Selain itu, mereka juga menyoroti kemungkinan pelanggaran netralitas politik lainnya.

Aturan Sepak Bola Harus Berlaku Setara

Salah satu isu sensitif yang turut memicu kritik adalah pemberian Hadiah Perdamaian FIFA kepada Trump. Akibatnya, mereka mempertanyakan apakah tindakan tersebut masih sejalan dengan prinsip independensi organisasi sepak bola dunia. Sementara itu, pihak FIFA berdalih bahwa pencabutan skorsing Balogun murni merupakan keputusan dari Komite Disiplin FIFA.

Meskipun demikian, Andrews, Wolters, dan Fuglsang menegaskan bahwa sepak bola wajib berdiri di atas aturan yang jelas, transparan, dan berlaku setara bagi seluruh peserta.

Mereka memperingatkan bahwa campur tangan politik terhadap keputusan disiplin berisiko menggerus kepercayaan publik terhadap FIFA serta integritas Piala Dunia.

“Keindahan olahraga terletak pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika Infantino membiarkan tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan itu langsung hilang”, tegas mereka. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *