Mataredaksi.com, BOGOR – Tim nasional Prancis tidak akan terpaku hanya pada satu nama saat menghadapi Spanyol di semifinal Piala Dunia FIFA 2026.
Meski Lamine Yamal menjadi salah satu pemain paling berbahaya di kubu La Roja, Les Bleus menyadari bahwa kekuatan lawan terletak pada permainan kolektif yang solid di seluruh lini.
Laga semifinal yang mempertemukan dua raksasa sepak bola Eropa itu akan berlangsung, di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Banyak pihak memprediksi pertandingan ini berlangsung sengit karena mempertemukan dua tim yang sejak awal turnamen konsisten tampil sebagai kandidat kuat juara.
Berdasarkan prediksi superkomputer Opta, Prancis menjadi favorit utama untuk menjuarai Piala Dunia 2026 dengan peluang sebesar 34 persen.
Sementara itu, Spanyol menempati posisi kedua dengan peluang 23,4 persen. Statistik tersebut semakin menegaskan bahwa duel ini layak menjadi laga final sebelum final.
Konaté: Spanyol Bukan Hanya Lamine Yamal
(Sumber foto: @mathis_sepak bola/X)
Bek tengah Prancis, Ibrahima Konaté, menegaskan timnya tidak akan menyusun strategi dengan hanya berfokus menghentikan Lamine Yamal. Menurutnya, kualitas Spanyol tersebar merata sehingga setiap pemain dapat menjadi ancaman.
Konaté juga secara terbuka menanggapi komentar psywar yang sempat dilontarkan oleh Lamine Yamal menjelang pertandingan panas ini.
“Dia bisa mengatakan apa pun yang dia mau. Kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan pada akhir pertandingan, kita akan lihat siapa yang diuntungkan. Apakah kami takut pada Spanyol? Tidak, tidak, tidak. Sejujurnya, kami tidak memperhatikan apa yang dikatakan orang luar”, tegas bek tangguh tersebut.
Ia menambahkan bahwa Les Bleus menolak untuk merasa terintimidasi oleh kubu lawan. “Kami tidak boleh takut pada siapa pun. Kami harus tetap rendah hati dan tidak terjebak dalam perangkap itu, terutama pada tahap turnamen yang sudah krusial ini”.
Yamal memang mencuri sorotan sejak membawa Spanyol melaju hingga semifinal. Meski baru mencetak satu gol sepanjang turnamen karena masih memulihkan kondisi setelah cedera yang mengakhiri musimnya lebih cepat bersama Barcelona, pemain muda itu tetap memberi kontribusi besar dalam permainan tim.
Selain mencetak satu gol, Yamal juga telah menciptakan lima peluang berbahaya. Publik pun masih mengenang gol spektakulernya ke gawang Prancis pada semifinal Euro 2024, sebuah momen yang menunjukkan kualitas luar biasa pemain berusia muda tersebut di panggung internasional.
Namun, Konaté menilai mengawasi Yamal saja tidak akan cukup. “Kami tidak hanya berpikir untuk menghentikan Lamine. Spanyol adalah tim yang luar biasa dengan banyak talenta individu”, ujar Konaté.
Bek yang akan memperkuat Real Madrid pada musim 2026-2027 itu menambahkan bahwa kekuatan terbesar La Roja justru terletak pada organisasi permainan mereka. “Tujuannya bukan hanya fokus pada satu pemain karena seluruh tim mereka bisa memberikan ancaman”.
Permainan Kolektif Jadi Kekuatan La Roja
Konaté mengaku terkesan dengan cara Spanyol membangun serangan. Menurutnya, kualitas permainan tim asuhan Luis de la Fuente tidak hanya terlihat ketika menguasai bola, tetapi juga saat melakukan transisi dan menekan lawan.
Ia menilai koordinasi antara lini tengah dan lini belakang menjadi salah satu faktor yang membuat lawan begitu sulit menembus pertahanan Spanyol sepanjang turnamen.
“Permainan menyerang mereka sangat luar biasa. Namun semua itu merupakan hasil kerja kolektif, mulai dari gelandang hingga para pemain bertahan”, lanjut center back berusia 27 tahun tersebut.
Konaté juga menyoroti efektivitas pressing balik yang diterapkan Spanyol. Menurutnya, aspek tersebut sering kali luput dari perhatian karena publik lebih banyak membicarakan kreativitas serangan La Roja.
“Apa yang mereka lakukan sungguh luar biasa. Mungkin orang-orang kurang membahas bagaimana mereka melakukan pressing balik karena permainan menyerang mereka begitu menonjol”, papar Konaté.
Rekor Impresif Tim Matador
Performa Spanyol memang pantas mendapat pujian. La Roja datang ke semifinal dengan modal mengantongi tujuh kemenangan beruntun di fase gugur turnamen besar.
Jika mampu mengalahkan Prancis, Spanyol akan menjadi negara Eropa pertama yang mencatat delapan kemenangan berturut-turut di fase gugur kompetisi besar. Rekor tersebut akan melampaui pencapaian Italia pada periode 1934-1938 serta Spanyol sendiri saat era emas mereka antara 2008 hingga 2012.
Ketangguhan tim asuhan Luis de la Fuente juga terlihat dari konsistensi mereka dalam beberapa tahun terakhir. Tidak termasuk adu penalti, sejak Piala Dunia 2018 Spanyol hanya menelan satu kekalahan dari 27 pertandingan di turnamen besar.
Satu-satunya kekalahan itu terjadi saat takluk 1-2 dari Jepang pada fase grup Piala Dunia 2022 di Qatar. Sejak hasil tersebut, Spanyol tidak terkalahkan dalam 14 pertandingan berturut-turut di ajang besar.
Lebih impresif lagi, selama periode tersebut La Roja hanya kebobolan lima gol dan mencatat sembilan pertandingan tanpa kebobolan. Catatan itu menunjukkan keseimbangan antara lini serang yang produktif dan pertahanan yang disiplin.
Melihat kualitas individu yang ada pada kedua tim serta rekor impresif yang menyertai perjalanan mereka menuju semifinal, pengamat memprediksi duel Prancis kontra Spanyol berlangsung ketat.
Bagi Kylian Mbappé dan kawan-kawan, menghentikan Lamine Yamal memang penting, tetapi meredam permainan kolektif La Roja akan menjadi kunci utama untuk mengamankan tiket ke final Piala Dunia FIFA 2026. (MR-01)







