AC Milan 3-0 Lecce, Amorim Tak Mau Ulangi Kesalahan di Old Trafford

Mengamati Laga – Pelatih AC Milan, Rúben Amorim, mengamati jalannya pertandingan dari bangku cadangan saat menghadapi Unione Sportiva Lecce dalam laga pekan kelima lanjutan Serie A Italia 2026/2027, di Stadion Giuseppe Meazza, San Siro, Senin (21/9/2026) dini hari WIB. Rossoneri meraih kemenangan 3-0 atas Lecce sekaligus menjaga rekor tak terkalahkan dalam lima pertandingan awal musim. (Sumber foto: @footballitalia/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – AC Milan menjaga awal positif bersama Rúben Amorim setelah menundukkan Unione Sportiva Lecce 3-0 pada pekan kelima Serie A Italia 2026/2027. Pertandingan berlangsung, di Stadion Giuseppe Meazza, San Siro, Senin (21/9/2026) dini hari WIB.

Christian Pulisic membuka keunggulan Rossoneri pada menit ke-14. Adrien Rabiot kemudian menggandakan skor pada menit ke-61 sebelum Diego Moreira melengkapi kemenangan Milan sembilan menit berselang.

Hasil tersebut membuat Milan tetap belum terkalahkan dalam lima pertandingan awal Serie A musim ini. Kemenangan atas Giallorossi juga mengantarkan AC Milan kembali ke posisi kelima klasemen.

Tim asuhan Rúben Amorim meraih tiga kemenangan dan dua hasil imbang dari lima laga pertama. Catatan itu menjadi awal tanpa kekalahan terbaik Milan sejak musim 2022/2023 ketika mereka juga mencatat tiga kemenangan dan dua hasil imbang.

Amorim Tak Ingin Mengulang Kesalahan

Amorim kini tercatat sebagai manajer asing ketiga dalam sejarah Milan yang tidak terkalahkan dalam lima pertandingan Serie A pertamanya. Ia menyamai catatan Luis Carniglia dan Nils Liedholm.

Carniglia mencatat tiga kemenangan dan dua hasil imbang pada 1963/1964, sedangkan Liedholm membukukan empat kemenangan dan satu hasil imbang pada musim yang sama.

Setelah pertandingan, Amorim menjelaskan pendekatannya dalam memberikan kebebasan kepada para pemain. Pelatih asal Portugal itu mengaku tidak ingin mengulangi kesalahan taktis yang pernah ia lakukan ketika menangani Manchester United.

“Ini adalah pengamatan permainan dan karakteristik”, kata Amorim kepada DAZN, seperti dikutip Football Italia dan dilansir Mataredaksi.

Identitas Permainan Tetap Fleksibel

Ia menjelaskan bahwa seorang manajer memang perlu mendengarkan pemain. Namun, keputusan mengenai identitas permainan tetap harus mempertimbangkan karakteristik seluruh tim.

“Tentu saja, saya mendengarkan para pemain, tetapi seorang manajer, terutama di tim besar, selalu mendengarkan para pemain, melihat dan memahami mereka. Namun, setiap pemain ingin mendorong permainan ke arah karakteristik mereka, dan jika Anda ingin memiliki identitas, itu sulit”, ujar Amorim.

Menurutnya, pengalaman di Manchester United membuatnya lebih berhati-hati dalam menentukan pendekatan. Amorim tidak ingin memaksakan sistem ketika karakteristik pemain tidak sepenuhnya mendukung.

“Itu selalu keputusan saya. Apa yang saya rasakan di pertandingan terakhir sama seperti yang saya rasakan di Manchester United, dan saya tidak bisa membuat kesalahan yang sama”, tegasnya.

Milan Siapkan Lebih dari Satu Cara Bermain

Amorim mengakui tidak semua situasi membutuhkan pendekatan yang sama. Karena itu, Milan harus mampu menyesuaikan permainan berdasarkan lawan dan kondisi pertandingan.

“Kadang-kadang kita tidak memiliki karakteristik yang sempurna untuk bermain dengan cara itu, dan jika kita tidak memilikinya, kita harus beradaptasi. Saya pikir hari ini bekerja”, katanya.

Ia juga membuka kemungkinan kembali menggunakan pola build-up dengan tiga pemain bertahan pada pertandingan lain. Bagi Amorim, fleksibilitas menjadi bagian penting dari perkembangan Milan.

“Dalam pertandingan lain, kita bisa kembali ke build-up dengan tiga [di belakang]. Yang penting adalah memiliki cara bermain yang berbeda”, lanjutnya.

Pendekatan tersebut, menurut Amorim, sangat penting di sepak bola Italia. Para pelatih Serie A memiliki kemampuan kuat dalam menerapkan penjagaan satu lawan satu sehingga Milan membutuhkan variasi untuk menciptakan ruang.

“Itu sangat penting di Italia, karena para manajer benar-benar pintar. Mereka menandai dengan sangat baik satu lawan satu. Ketika mereka kehilangan referensi untuk apa yang ingin kami lakukan, lebih sulit bagi mereka memahami mobilitas kami”, jelasnya.

Statistik Milan Mendukung Kemenangan

Milan juga memperlihatkan dominasi melalui statistik pertandingan. Mike Maignan dan rekan-rekannya menghasilkan total expected goals (xG) 1,93 dari 10 percobaan.

Sebaliknya, Lecce asuhan Eusebio Di Francesco hanya menghasilkan xG 0,17 dari enam tembakan. Milan juga menjaga gawangnya tetap bersih sepanjang pertandingan.

Hasil itu sekaligus mencatat dua kemenangan kandang pertama Milan di Serie A musim ini dengan clean sheet. Catatan serupa terakhir mereka raih pada 2020/2021 ketika mengalahkan Bologna FC 1909 dengan skor 2-0 dan Spezia Calcio 3-0 di bawah Stefano Pioli.

Kemenangan atas Lecce juga menjadi modal penting bagi Milan sebelum jeda internasional. Sebelumnya, mereka belum meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir di semua kompetisi dengan catatan dua imbang dan satu kekalahan.

Amorim Nilai Milan Berada di Jalur Tepat

Amorim tetap melihat Milan berada dalam proses perkembangan meski persaingan papan atas Serie A berlangsung ketat. AS Roma, Inter Milan, dan Società Sportiva Lazio berada dua poin di atas Milan setelah rangkaian pertandingan awal musim.

“Jika Anda melihat cara kami bermain, AS Roma dan Inter Milan memiliki lebih banyak waktu sebagai sebuah tim. Anda dapat melihat pola yang ada di sana”, kata Amorim.

“Kami tidak kehilangan begitu banyak poin. Kami turun dua ke Lazio dan Juventus pergi, jadi tidak semuanya buruk”, lanjutnya.

Amorim menilai hasil pertandingan harus dilihat secara seimbang. Menurutnya, Milan memang masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, tetapi kemenangan atas Lecce menunjukkan perkembangan positif.

“Kadang-kadang sepertinya seperti itu, terutama setelah hasil baru-baru ini, tetapi kita harus melihat keseimbangan. Kami menang hari ini melawan tim yang bagus yang melakukannya dengan baik, tetapi itu adalah tim yang berbeda, dan kadang-kadang kami akan memiliki masalah”, tuturnya.

Ia juga menyinggung dua pertandingan sebelumnya melawan Juventus dan Lazio yang menurutnya sebenarnya bisa menghasilkan tambahan poin bagi Milan.

“Ini adalah proses. Saya pikir kami harus memiliki lebih banyak poin, karena melawan Juventus kami tidak bermain dengan baik, tetapi kami 30 detik dari mendapatkan tiga poin”, ujar Amorim.

“Bahkan melawan Lazio, jika Anda melihat keseimbangan permainan, saya merasa kami pantas sedikit lebih”, pungkasnya. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *