Bogor  

Beras Bansos Diduga Apek, Warga Bogor Minta Bulog Beri Klarifikasi

Beras Bansos – Beras bantuan sosial periode Juli–September 2026 tampak kusam dan mengeluarkan aroma apek, berdasarkan keluhan warga penerima bantuan di wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Sabtu (26/9/2026). (Sumber foto: Dokumentasi warga)

Mataredaksi.com, BOGOR – Kegembiraan keluarga penerima manfaat (KPM) di Kabupaten Bogor setelah menerima bantuan sosial (bansos) beras 30 kilogram berubah menjadi keluhan. Sejumlah warga mempertanyakan kualitas beras bantuan periode Juli hingga September 2026 yang mereka terima.

Warga mengeluhkan kondisi beras yang dinilai berbeda dari bantuan sebelumnya. Mereka menyebut beras tersebut berwarna kusam dan mengeluarkan aroma apek seperti gabah lembap. Setelah dimasak menjadi nasi, sebagian warga juga merasakan tekstur seperti pasir halus.

Keluhan itu mencuat setelah beredar video pendek di media sosial yang mempertanyakan kondisi beras bansos tersebut. Dalam video itu, seseorang mempertanyakan asal dan usia beras yang dibagikan kepada masyarakat. “Ini beras tahun berapa?”, demikian narasi singkat dalam video yang beredar tersebut.

Warga Minta Kualitas Beras Diklarifikasi

Keluhan warga mendapat perhatian Yayat Setiawan dari Ikatan Komunitas Kawasan Puncak dan Sekitarnya (IKKPAS). Ia membenarkan adanya keluhan mengenai beras bansos yang berwarna kusam dan beraroma apek.

Menurut Yayat, kondisi tersebut perlu mendapat penjelasan dari Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Ia meminta pihak terkait memastikan kualitas beras yang diterima masyarakat, khususnya keluarga penerima manfaat.

“Memang betul itu. Coba Bulog jangan distribusikan beras begitu kepada masyarakat, mentang-mentang gratis bantuan buat fakir miskin. Banyak yang mengeluhkan keberadaan beras bansos itu memang tidak layak untuk dikonsumsi. Tapi apalah daya bagi masyarakat miskin, memang sangat membutuhkan daripada tidak makan”, tulisnya di WAG Forum Warga Bogor, Sabtu (26/9/2026).

Beras sebanyak 30 kilogram tersebut merupakan akumulasi bantuan untuk periode Juli hingga September 2026. Sejumlah warga menduga kualitas beras yang mereka terima rendah karena warnanya kusam dan aromanya menyerupai gabah lembap.

Keluhan Warga Muncul Saat Beras Dimasak

Mang Ncep, warga Kampung Babakan Madang, mendengar keluhan sejumlah ibu rumah tangga mengenai beras bansos. Warga bersyukur mendapat bantuan pemerintah. Namun, kondisi beras membuat mereka kecewa.

Ncep mengatakan beras tersebut mengeluarkan aroma apek. Bau itu masih terasa setelah warga mencuci dan memasaknya. Ia juga merasakan tekstur nasi seperti butiran pasir halus saat makan.

Ncep meminta Bulog memberi penjelasan mengenai kualitas beras. Menurut dia, warga membutuhkan beras sebagai bahan pangan sehari-hari sehingga tetap mengolah bantuan tersebut meski mencium bau apek.

“Berasnya bau apek. Itu beras kapan ya?”, tanyanya, Sabtu (26/9/2026). Ia meminta Bulog, bukan pemerintah desa, menjelaskan kondisi beras tersebut.

Warga Desa Karang Tengah Pertanyakan Kualitas Beras

Ilah, warga Desa Karang Tengah, RT 03/RW 04, menyampaikan keluhan serupa. Ia melihat warna beras tampak kusam dan mencium aroma apek.

Ilah mengatakan warga mencuci beras sebelum memasaknya. Namun, bau tersebut masih muncul. Saat menyantap nasi, warga juga merasakan tekstur seperti pasir halus.

Ilah menyebut warga kecewa karena warna beras tampak kusam, sedangkan aroma apek masih terasa setelah mereka mencucinya. Ia juga mengatakan nasi hasil olahan beras tersebut terasa seperti memiliki butiran pasir halus.

Menurut Ilah, warga tetap bersyukur atas bantuan pemerintah. Meski demikian, mereka ingin mengetahui jenis beras serta waktu panennya. Ilah meminta Bulog menjelaskan jenis beras dan waktu panen yang berkaitan dengan bantuan tersebut.

Keluhan Warga Berlanjut

Keluhan mengenai kualitas beras juga muncul dari penerima bantuan lainnya. Mereka mempertanyakan warna, aroma, dan tekstur beras karena bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Warga berharap Bulog segera menjelaskan asal, jenis, dan kondisi beras untuk periode Juli hingga September 2026.

Pemdes Babakan Madang Minta Klarifikasi

Kepala Desa Babakan Madang, Deni Nugraha, menjelaskan bahwa pemerintah desa menyalurkan beras bansos periode Juli hingga September 2026 kepada seluruh keluarga penerima manfaat.

Deni menyebut KPM di wilayahnya berada di lima Rukun Warga (RW), yakni Dusun Babakan Madang Kaum, Banceuy, Malimping, dan Cicadas.

Deni mengaku kaget setelah mendengar keluhan warga mengenai aroma apek. Ia mengatakan pemerintah desa mengacu pada data Dinas Sosial ketika menyalurkan bantuan.

Menurut Deni, setiap KPM harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli suami atau istri serta Kartu Keluarga (KK) saat mengambil bantuan. Karena itu, ia meminta warga menanyakan kualitas beras kepada Dinas Sosial atau Bulog.

Deni menegaskan pemerintah desa hanya mengikuti data dari Dinas Sosial saat menyalurkan bantuan. Ia meminta warga menanyakan persoalan kualitas beras kepada Dinas Sosial atau Bulog.

Warga Minta Penjelasan Bulog

Warga meminta Bulog dan pihak terkait menjelaskan kualitas serta asal beras bansos periode Juli hingga September 2026. Mereka ingin mengetahui alasan beras tersebut memiliki warna kusam, aroma apek, dan tekstur nasi seperti pasir.

Bantuan beras tetap membantu keluarga penerima memenuhi kebutuhan pangan. Namun, warga berharap Bulog segera memberikan penjelasan agar keluhan mengenai kualitas beras mendapat kepastian. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *