Mikrobiom, Sahabat Sejati Tubuh Manusia dari Lahir hingga Akhir Haya

ILUSTRASI - Mikrobiom dalam saluran pencernaan manusia. Guru Besar FMIPA IPB University, Prof Antonius Suwanto, menjelaskan peran penting mikrobiom dalam menjaga kesehatan tubuh manusia sejak lahir hingga akhir hayat, Kamis (11/9/2025). (Sumber ilustrasi: Freepik)

Mataredaksi.com, BOGOR – Mikrobiom, kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia, berperan besar menjaga kesehatan sejak bayi lahir hingga lanjut usia. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto, memaparkan hal itu dalam tayangan IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV bertajuk “Mikrobiom, Teman Sepanjang Hayat”.

“Tubuh kita bukan hanya kumpulan sel-sel, tapi juga dihuni berbagai mikroorganisme seperti bakteri, jamur, hingga yeast. Semua mikroorganisme yang berasosiasi dengan tubuh kita dan umumnya bermanfaat, itulah yang disebut mikrobiom”, jelas Prof Antonius dilansir Mataredaksi dari ipb.ac.id.

Usus, Metropolitan Bakteri
Ia menuturkan, mikrobiom menyebar di kulit, mulut, hingga usus besar. Bahkan hampir separuh berat feses manusia berasal dari bakteri. “Usus besar itu ibarat metropolitan bakteri. Dalam satu gram feses bisa terdapat sekitar satu triliun bakteri”, ujarnya.

Prof Antonius menekankan, hidup terlalu bersih tidak selalu baik. Anak-anak yang terbiasa bermain lumpur atau air justru memiliki sistem imun lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak di lingkungan yang terlalu steril. “Kalau terlalu higienis, sistem pertahanan tubuh tidak terlatih”, katanya.

Peran sejak Bayi Lahir
Ia menjelaskan, mikrobiom mulai hadir sejak bayi lahir. Bayi yang lahir normal melalui vagina langsung menerima bakteri dari ibunya.

“Bakteri dari ibu ini penting. Penelitian menunjukkan adanya kaitan dengan risiko autisme atau penyakit autoimun pada bayi yang lahir caesar tanpa paparan mikrobiom alami”, tuturnya.

Lebih jauh, mikrobiom juga berhubungan dengan kesehatan mental. Mikroorganisme di usus menghasilkan dopamin dan serotonin yang memengaruhi otak. “Usus yang sehat akan mendukung otak yang sehat. Karena itu ada istilah happy tummy, happy life”, ungkapnya.

Jaga Keseimbangan dengan Pangan Lokal
Untuk menjaga keseimbangan mikrobiom, Prof Antonius menganjurkan konsumsi makanan berserat dan produk fermentasi tradisional seperti tempe, tape, atau yogurt. “Makanan berserat memberi nutrisi bagi bakteri usus, sementara makanan fermentasi langsung memasukkan mikroorganisme baik ke dalam tubuh”, jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan menggunakan antiseptik atau disinfektan. “Bakteri normal di kulit atau usus melindungi kita dari bakteri berbahaya. Kalau dibasmi berlebihan justru memberi ruang bagi bakteri jahat”, ujarnya.

Prof Antonius menutup dengan pesan bahwa mikrobiom adalah sahabat sejati tubuh manusia. “Mikroorganisme itu bukan musuh, melainkan pelindung yang membuat kita sehat. Karena itu, jagalah keseimbangannya melalui pola makan, gaya hidup, dan interaksi dengan alam”, pungkasnya. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *