Banding dan Proses Hukum
Mataredaksi.com, BOGOR – Southampton menolak keputusan Komisi Disiplin Independen EFL yang mencoret mereka dari babak play-off Championship. Klub menilai sanksi itu tidak seimbang jika dibandingkan dengan kasus lain di sepak bola Inggris.
Selain itu, klub berjuluk The Saints melihat keputusan tersebut mengganggu persiapan tim pada akhir musim kompetisi. Komisi disiplin menjatuhkan keputusan pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.
Middlesbrough FC kemudian menggantikan posisi Southampton di play-off dan akan menghadapi Hull City Association Football Club di final, pada Sabtu (23/5/2026) pukul 06.00 WIB di Stadion Wembley, London, Inggris.
EFL juga menjatuhkan pengurangan empat poin kepada Southampton untuk musim Championship berikutnya. Hukuman itu muncul setelah klub mengakui pelanggaran dua aturan liga.
Keputusan itu memicu reaksi keras dari klub. Dampaknya terasa pada kompetisi, finansial, dan reputasi tim. Situasi tersebut juga membuat persaingan di papan tengah dan zona play-off Championship semakin ketat menjelang akhir musim.
Sikap Klub Southampton
Chief Executive Officer (CEO) Southampton, Phil Parsons, meminta maaf kepada klub lain dan para suporter. Ia mengatakan klub menerima kesalahan, tetapi menolak beratnya hukuman. “Kesalahan memang terjadi, tetapi hukuman ini tidak seimbang”, kata Parsons.
Ia menyebut klub kehilangan peluang tampil di play-off dengan nilai lebih dari £200m (sekitar Rp4 triliun). Ia juga menilai keputusan itu memengaruhi rencana internal klub. Parsons menambahkan, keputusan tersebut berdampak pada pemain, staf, dan operasional klub sepanjang musim.
Banding dan Proses Hukum
Southampton membawa sengketa ini ke panel arbitrase independen liga. Sidang berlangsung pada Rabu. Klub menyiapkan dokumen pembanding dari beberapa kasus sebelumnya di Inggris, termasuk Leeds United pada 2019 dan Luton Town pada 2008–2009.
EFL menjelaskan aturan larangan pengintaian 72 jam sebelum laga berlaku setelah kasus Leeds United. Aturan itu menjadi dasar penilaian dalam kasus ini.
Perbandingan Kasus
Southampton menilai sanksi mereka lebih berat dibandingkan kasus lain seperti Everton dan Derby County hingga Chelsea. Klub juga melihat perbedaan pendekatan dalam penegakan aturan disiplin di kompetisi Inggris. Klub menegaskan prinsip proporsionalitas harus tetap berlaku dalam setiap keputusan liga.
Pernyataan Klub
Parsons mengatakan klub tetap menghormati proses hukum. Namun, Southampton tetap melanjutkan banding sampai keluar keputusan akhir.
“Kami ingin keadilan dalam proses ini. Sebab, situasi ini sekaligus menjadi perhatian publik sepak bola Inggris karena menyangkut integritas kompetisi dan konsistensi penerapan aturan liga”, ujarnya. (MR-02)
Sumber: bbc.com






