Mataredaksi.com, WASHINGTON – WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang perdagangan global setelah ia mengumumkan gelombang tarif baru. Kanada dan India langsung merespons dengan penolakan terbuka, karena tarif baru tersebut menyasar produk ekspor utama dari kedua negara.
Trump menuding beberapa mitra dagang tidak menawarkan syarat perdagangan yang adil. Ia menyebut Kanada dan India sebagai contoh negara yang gagal melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional AS.
Trump menaikkan tarif impor dari Kanada menjadi 35%, naik dari sebelumnya 25%. Ia mengaitkan kebijakan ini dengan meningkatnya arus fentanyl ilegal, dan menuduh pemerintah Kanada tidak kooperatif dalam memberantas penyelundupan narkotika lintas batas. Ia bahkan menerbitkan perintah khusus yang menargetkan Kanada secara langsung.
Berbeda dengan Kanada, Meksiko justru mendapat penangguhan selama 90 hari dari tarif 30%. Trump menyampaikan bahwa Meksiko menunjukkan sikap lebih terbuka dalam negosiasi, sehingga layak memperoleh perlakuan berbeda.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan kekecewaannya di hadapan media. “Kami akan bertindak tegas untuk menjaga lapangan kerja dalam negeri dan memperluas pasar ekspor”, ujarnya dalam konferensi pers di Ottawa.
Flavio Volpe, anggota Dewan Hubungan Kanada-AS, mengonfirmasi bahwa delegasi Kanada masih berada di Washington. “Kami terus bernegosiasi. Tapi jika tidak ada kemajuan, kami siap mundur dari pembicaraan”, tegasnya kepada CBC News.
India juga mengalami tekanan yang serupa. Pemerintah AS menetapkan tarif 25% terhadap berbagai komoditas utama asal India. Kebijakan ini diperkirakan bisa mengganggu ekspor India hingga $40 miliar.
Seorang pejabat senior India menjelaskan bahwa New Delhi masih berupaya mencari titik temu dengan pihak Washington. “Kami terus berkomunikasi secara intensif”, kata sumber itu kepada Reuters pada Jumat (1/8/2025).
Trump kini memanfaatkan tarif sebagai alat diplomasi dan tekanan politik. Sejumlah analis memperingatkan bahwa pendekatan agresif seperti ini bisa memicu reaksi balasan dari negara mitra serta memperburuk ketidakstabilan di pasar keuangan global. (MR-02)






