Investor Wait and See, IHSG Jatuh usai Sri Mulyani Lengser

BERSWA foto: Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berswafoto dengan para pegawai Kementerian Keuangan usai acara serah terima jabatan, Selasa (9/9/2025). Momen tersebut menjadi perpisahan hangat Sri Mulyani dengan jajaran yang telah mendampinginya sebelum reshuffle kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto. (Sumber foto: Istimewa)

Mataredaksi.com, JAKARTA- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan Selasa (9/9/2025), setelah pergantian Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Investor memilih bersikap hati-hati atau wait and see terhadap arah kebijakan fiskal pemerintahan.

IHSG sempat dibuka di level 7.649,38 atau turun 117,47 poin (1,51%) dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan, dengan indeks melemah 1,78% ke posisi 7.628,84. Saham-saham perbankan besar menjadi penekan utama.

Guncangan Jangka Pendek

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai pelemahan IHSG lebih mencerminkan guncangan jangka pendek ketimbang perubahan fundamental. Namun, ia mengingatkan risiko koreksi lanjutan tetap terbuka jika pemerintah tidak segera memberikan komunikasi kebijakan yang meyakinkan.

“Pasar menilai posisi menteri keuangan sangat krusial dalam menjaga kredibilitas fiskal, serta kesinambungan kebijakan makro”, ujar Josua.

Ia menambahkan, dari sisi obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 5 basis poin ke level 6,44%. Kenaikan yield ini berbeda dengan mayoritas negara Asia yang justru mencatat penurunan, menandakan adanya premi risiko tambahan akibat ketidakpastian fiskal pasca reshuffle.

Tiga Faktor Penentu Sentimen

Josua menyebut ada tiga faktor utama yang akan menentukan arah sentimen pasar. Pertama, sinyal kebijakan konkret dari Menteri Keuangan baru terkait strategi pembiayaan APBN dan reformasi fiskal. Kedua, konsistensi koordinasi dengan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah. Ketiga, dinamika politik pasca reshuffle, apakah mampu memperkuat koalisi atau justru menambah ketegangan.

Sebaliknya, bila Menkeu baru segera memberi kepastian arah fiskal yang pragmatis dan disiplin, pasar dinilai berpeluang kembali stabil. “IHSG bisa pulih dan melanjutkan tren positif pada kuartal terakhir tahun ini”, kata Josua.

Tekanan di Sektor Perbankan

Analis pasar modal sekaligus pendiri Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai pelemahan sektor perbankan menjadi indikasi investor tengah menimbang risiko policy uncertainty pasca pergantian bendahara negara.

“Ini mencerminkan sikap wait and see terhadap komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal, transparansi defisit APBN, dan stabilitas makro”, jelasnya.

Ia menambahkan, aksi jual investor asing turut memperdalam tekanan. Namun, secara teknikal, peluang rebound tetap terbuka selama IHSG bertahan di atas level psikologis 7.700. Indeks diperkirakan bergerak di kisaran 7.640–7.880 dalam sepekan ke depan.

“Volatilitas memang masih tinggi, tetapi ruang pemulihan tetap tersedia sepanjang level kunci 7.700 tidak terlewati ke bawah”, pungkas Hendra.

(MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *