Mataredaksi.com, BOGOR – Masa jabatan jajaran direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor tinggal menyisakan empat hari.
Namun, sampai Jumat (25/9/2026), Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Bogor belum mengumumkan pembukaan seleksi direksi baru perusahaan daerah yang berada di Jalan Raya Tegar Beriman-Bojong Gede, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong tersebut.
Situasi itu memunculkan sorotan dari kalangan masyarakat. Apalagi, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan mengelola layanan air bersih bagi lebih dari 244 ribu pelanggan di Kabupaten Bogor.
Pada periode sebelumnya, proses pergantian direksi sudah berlangsung sekitar satu bulan sebelum masa jabatan jajaran lama berakhir. Perbedaan waktu pelaksanaan tersebut kini menjadi perhatian, terutama karena masa bakti direksi saat ini semakin dekat dengan batas akhir.
Seleksi Direksi Jadi Sorotan
Kader Partai Demokrasi sekaligus aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ibnu Sakti Mubarok, mempertanyakan belum adanya pengumuman seleksi direksi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan.
“Ini agak aneh, kenapa jabatan direksi yang tinggal menghitung hari habis, petinggi di lingkup Pemkab Bogor tak kunjung mengumumkan pembukaan seleksi direksi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan”, ujar Ibnu Sakti Mubarok, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Ibnu, perusahaan daerah tersebut membutuhkan figur yang mempunyai kompetensi untuk mengembangkan bisnis sekaligus memperluas pelayanan air bersih. Ia menilai proses seleksi terbuka perlu menjadi bagian penting dalam menentukan jajaran direksi berikutnya.
Ibnu juga menyoroti masih adanya kawasan yang belum sepenuhnya menikmati layanan air bersih meskipun berada di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi.
“Seleksi terbuka, transparan dan akuntabel penting diperhatikan agar usaha perusahaan bisa terus berkembang. Apalagi sampai sekarang wilayah yang seharusnya sudah terlayani pasokan air bersih, seperti di Cibinong, ternyata masih banyak yang menggunakan air tanah atau sumur”, katanya.
Dividen dan Beban APBD Dipersoalkan
Selain menyoroti proses pergantian direksi, Ibnu membahas fungsi Perumda sebagai salah satu badan usaha milik daerah yang perlu memberi kontribusi terhadap pendapatan Kabupaten Bogor.
Menurut Ibnu, BUMD tidak cukup hanya menjalankan pelayanan publik. Perusahaan daerah juga perlu memberikan kontribusi finansial kepada pemerintah daerah. Ia menilai kontribusi tersebut penting untuk memperkuat kondisi fiskal Kabupaten Bogor.
“Berdasarkan data, sumbangan uang berupa dividen dari perusahaan ke kas daerah masih belum besar. Parahnya lagi, uang yang disetor sering diminta kembali dengan dalih untuk pengembangan usaha dan peremajaan peralatan permesinan. Ini sama artinya perusahaan masih jadi beban APBD”, kata Ibnu.
Karena itu, Ibnu mendorong proses seleksi direksi dengan mempertimbangkan kemampuan calon dalam mengelola perusahaan secara profesional. Ia juga menilai calon direksi perlu memiliki kemampuan untuk meningkatkan pelayanan sekaligus kinerja usaha.
Gangguan Air di Leuwiliang Ikut Disorot
Ibnu kemudian menyoroti gangguan pasokan air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor. Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan kinerja pengelolaan perusahaan daerah.
Ia mengambil contoh kondisi Unit Pelayanan Leuwiliang. Pada awal Agustus 2026, warga perumahan Grand Sutera mendatangi kantor pelayanan karena pasokan air bersih berulang kali terhenti.
“Aksi penggerudukan dan ketidakberdayaan pimpinan Kantor Cabang Leuwiliang mengatasi kendala suplai air bersih kepada pelanggan ini menjadi persoalan serius”, ujar aktivis GMNI tersebut.
“Kenapa sampai tak bisa tertangani oleh jajaran direksi yang kini menjabat? Mereka itu saat dilantik sudah diberikan amanah agar tingkat kematian pasokan air kepada pelanggan ditekan seminimal mungkin”, lanjut Ibnu.
Menurut Ibnu, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena kebutuhan pelanggan terus meningkat. Pada sisi lain, kapasitas infrastruktur produksi dan distribusi turut menentukan kelancaran layanan air bersih.
Manajemen Jelaskan Kendala Produksi
Informasi yang masuk menunjukkan gangguan pasokan air di wilayah Barat, termasuk Cabang Leuwiliang, berkaitan dengan kemampuan mesin pompa pada sejumlah sumber air. Usia teknis mesin yang sudah tua membuat operator tidak dapat meningkatkan kemampuan pompa secara maksimal.
Manajemen Perumda Air Minum Tirta Kahuripan sebelumnya menjelaskan kondisi Sumur Cibungbulang dan Geledug. Kedua sumber tersebut kini melayani jumlah pelanggan yang terus bertambah.
“Sumur di Cibungbulang dan Geledug memang saat ini melayani jumlah pelanggan yang terus bertambah, sehingga pada jam-jam puncak terjadi peningkatan kebutuhan air cukup signifikan”, kata manajemen Perumda Air Minum Tirta Kahuripan kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).
“Kondisi diperparah dampak kemarau panjang, debit sungai terus menurun sehingga perlu penyesuaian proses produksi”, ujar manajemen menambahkan.
Manajemen juga terus mengevaluasi kapasitas produksi kedua instalasi tersebut. Sementara itu, tim teknik Cabang Pelayanan Leuwiliang mencari titik kebocoran untuk mengurangi kehilangan air dan merehabilitasi jaringan pipa.
Tim tersebut menjalankan langkah perbaikan untuk menyempurnakan pengaliran air kepada pelanggan di wilayah tersebut. Persoalan pelayanan itu muncul ketika masa jabatan direksi semakin mendekati akhir dan proses penentuan jajaran pengelola berikutnya mulai menjadi perhatian publik. (MR-01)





