Mataredaksi.com, BOGOR – Penyerang Barcelona, Raphinha, melontarkan kritik keras terhadap kinerja wasit setelah timnya tersingkir dari Liga Champions UEFA 2025/2026 oleh Atlético Madrid.
Barcelona gagal melaju ke semifinal setelah kalah agregat 2-3. Mereka sempat menang 2-1 pada leg kedua di Stadion Riyadh Air Metropolitano, Rabu (15/4/2026) dini hari WIB.
Raphinha yang absen di dua leg karena cedera tetap menyuarakan kekecewaan. Ia menilai wasit merugikan Barcelona dalam dua pertandingan tersebut.
“Mereka telah merampas kemenangan kami”, kata Raphinha seperti dikutip Mataredaksi dari Fabrizio Romano. Ia juga menilai wasit tidak konsisten dalam mengambil keputusan sepanjang laga.
Raphinha Soroti Banyak Pelanggaran Atlético
Raphinha menilai Atlético Madrid terlalu keras bermain, tetapi wasit tidak memberi hukuman tegas. “Saya tidak tahu berapa banyak pelanggaran yang mereka lakukan, tetapi tidak ada kartu kuning. Itu sulit diterima”, ujarnya.
Wasit Clément Turpin tetap menjalankan tugasnya sesuai aturan, termasuk saat menganulir gol Ferran Torres karena offside setelah intervensi Video Assistant Referee (VAR).
Gol itu sempat membuka peluang Barcelona untuk memaksakan perpanjangan waktu, sebelum VAR membatalkannya.
Kartu Merah Eric García Jadi Titik Balik
Drama terjadi pada menit ke-79 ketika Eric García menerima kartu merah. Awalnya, wasit hanya memberi kartu kuning setelah García menjatuhkan Alexander Sørloth yang mengarah ke gawang.
Namun, VAR memanggil wasit untuk meninjau ulang. Setelah melihat tayangan ulang, wasit mengubah keputusan menjadi kartu merah.
Keputusan itu memicu perdebatan karena Jules Koundé masih bisa menutup ruang sehingga peluang gol tidak sepenuhnya jelas. Meski menuai kontroversi, keputusan tersebut tetap sesuai aturan VAR dan dianggap sah.
Kontroversi Leg Pertama Barcelona vs Atlético
Kekecewaan Barcelona tidak hanya muncul di leg kedua. Raphinha juga menyoroti laga pertama. Barcelona merasa layak mendapat penalti setelah bola diduga mengenai tangan Marc Pubill di kotak terlarang.
Namun, wasit István Kovács tidak menganggapnya sebagai handball. VAR juga tidak turun tangan. “Saya tidak mengerti. Kesalahan bisa terjadi sekali, tapi tidak dua kali”, ujar Raphinha.
Hansi Flick: Seharusnya Penalti Jelas
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, ikut mengkritik keputusan wasit di leg pertama. Ia menilai insiden handball sangat jelas dan layak penalti. “Kiper mengoper bola dan pemain lawan menyentuhnya dengan tangan. Itu jelas”, kata Flick.
Ia juga mempertanyakan sikap VAR yang tidak memberi rekomendasi penalti. Meski kecewa, Flick menilai Barcelona tampil lebih baik secara umum dalam dua leg.
Comeback Barcelona Gagal di Leg Kedua
Barcelona sempat membuka harapan comeback di leg kedua. Lamine Yamal mencetak gol cepat pada menit keempat, disusul gol Ferran Torres yang menyamakan agregat.
Namun Atlético kembali unggul lewat gol penentu yang membuat situasi berbalik. Gol tersebut mengunci kemenangan agregat dan memastikan Atlético lolos ke semifinal.
Raphinha Bersitegang dengan Suporter Atlético
Ketegangan meningkat setelah laga berakhir. Raphinha terlibat adu gestur dengan suporter Atlético Madrid yang merayakan kemenangan. Ia terlihat memberi isyarat emosional yang menandakan keyakinan bahwa Atlético akan tersingkir di fase berikutnya.
Juan Musso Bantah Tuduhan Barcelona
Kiper Atlético Madrid, Juan Agustín Musso, menolak keras anggapan bahwa wasit membantu timnya. “Tidak masuk akal mengatakan pertandingan ini dicuri dari mereka. Kami menang di lapangan”, kata Musso.
Ia juga menilai reaksi Barcelona terlalu berlebihan. “Mereka merasa layak mendapat banyak penalti dan kami seharusnya dapat kartu merah. Itu tidak benar”, ujar penjaga gawang asal Argentina tersebut.
Atlético Madrid Lolos dengan Efisiensi Tinggi
Secara statistik, pertandingan berlangsung ketat. Barcelona unggul penguasaan bola dan jumlah peluang. Namun Atlético lebih efektif dalam memanfaatkan momen penting.
Tim asuhan Diego Simeone tampil disiplin dan mampu menjaga keunggulan hingga akhir laga. Faktor pengalaman di fase gugur juga memberi keunggulan bagi Atlético.
Barcelona justru terlihat kehilangan kontrol di momen krusial dan gagal menjaga konsistensi permainan. Hasil ini kembali menyoroti masalah Barcelona dalam mengelola tekanan di level tertinggi Eropa.
Kesimpulan: Efisiensi Atlético, Kelemahan Barcelona
Atlético Madrid memastikan tiket semifinal dengan pendekatan yang lebih efektif dan stabil. Barcelona harus kembali mengevaluasi konsistensi, disiplin, dan pengendalian emosi di laga besar.
Atlético Tahan Tekanan Barcelona di Babak Krusial
Atlético Madrid tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu membaca ritme permainan Barcelona dengan disiplin tinggi. Setiap kali Barcelona meningkatkan tempo, lini belakang Atlético langsung merapat dan memotong aliran bola lebih awal.
Diego Simeone juga mengatur transisi dengan sangat cepat. Setiap perebutan bola di lini tengah langsung berubah menjadi serangan balik yang terstruktur, membuat Barcelona beberapa kali kesulitan mengatur ulang posisi.
Barcelona Dominan, Tapi Kurang Tajam
Barcelona sebenarnya mencatat penguasaan bola lebih tinggi sepanjang laga. Mereka juga menciptakan lebih banyak percobaan tembakan ke arah gawang dibandingkan Atlético.
Namun, dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas. Beberapa peluang penting gagal dikonversi menjadi gol tambahan, terutama di momen setelah gol Ferran Torres.
Ketidakmampuan menjaga momentum inilah yang akhirnya memberi ruang bagi Atlético untuk kembali mengontrol pertandingan.
Momen Psikologis Jadi Pembeda
Selain faktor teknis, aspek mental juga berperan besar dalam pertandingan ini. Setelah kartu merah Eric García, Barcelona terlihat kehilangan stabilitas emosional.
Atlético memanfaatkan situasi itu dengan tetap tenang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan di lapangan.
Pengalaman mereka di kompetisi Eropa terlihat jelas dalam cara mengelola tekanan di menit-menit akhir pertandingan.
Barcelona Kembali Hadapi Masalah Lama
Kekalahan ini kembali membuka masalah lama Barcelona di Liga Champions, terutama saat menghadapi laga knockout dengan intensitas tinggi.
Tim masih kesulitan menjaga konsentrasi penuh di fase krusial, terutama ketika pertandingan berubah cepat dalam hitungan menit.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Hansi Flick untuk membangun tim yang lebih stabil secara mental dan taktis di level Eropa. (MR-02)






