Indonesia Siapkan 19 Proyek CCS, Menuju Pusat Penyimpanan Karbon Asia Pasifik

THE 3rd International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum, di Jakarta, Selasa (7/10/2025). (Sumber foto: Dok. IICCS)

Mataredaksi.com, JAKARTA — Indonesia menyiapkan 19 proyek Carbon Capture and Storage (CCS) dari Sabang hingga Merauke. Langkah ini memperkuat posisi nasional sebagai calon pusat penyimpanan karbon terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Teknologi Penangkap Karbon Jadi Fokus

Executive Director Indonesia CCS Center (ICCSC) Belladonna Troxylon Maulianda menegaskan, proyek-proyek tersebut tak hanya menekan emisi karbon dioksida (CO₂), tetapi juga mendorong produksi migas melalui skema Enhanced Oil Recovery (EOR).

“Proyek CCS Indonesia mencakup wilayah darat dan laut. Jenis penyimpanannya menggunakan reservoir migas yang habis dan akuifer asin”, ujar Belladonna dalam The 3rd International & Indonesia CCS Forum (IICCS) di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Proyek Strategis dari Papua hingga Jawa

Beberapa proyek besar kini terus berkembang. Tangguh CCUS (Ubadari Field) di Papua Barat yang dikelola BP menjadi proyek CCS pertama di Indonesia dan ditargetkan beroperasi pada 2026.

Selain itu, Abadi CCS di Blok Masela, hasil kolaborasi Inpex dan Pertamina, akan menjadi sistem penyimpanan bawah laut terbesar di Asia Tenggara.

Proyek lain meliputi:

  • Sukowati CCS oleh Pertamina EP di Jawa Timur,

  • Sakakemang CCS oleh Repsol di Sumatra Selatan, dan

  • Asri Basin CCS Hub untuk kawasan industri di Jawa Barat dan Selatan.

Belladonna menambahkan, Pupuk Indonesia juga mengembangkan proyek CCS untuk mendukung produksi amonia rendah karbon.

Dukungan Global dan Peluang Investasi

Forum IICCS mempertemukan pemerintah Indonesia dengan mitra dari Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Mereka membahas regulasi, pasar karbon, serta peluang investasi lintas negara.

Menurut Evan Lukas, Director of Indonesia Advocacy & Policy Development di ExxonMobil Low Carbon Solutions, kapasitas penyimpanan karbon Indonesia di akuifer asin bisa mencapai 80–200 gigaton CO₂.

Ia menekankan pentingnya perjanjian antarnegara sebelum menjalankan proyek lintas batas. “Kerja sama lintas negara memerlukan kesepakatan resmi antar-pemerintah”, tegasnya.

Evan menambahkan, negara industri maju kini membutuhkan lokasi penyimpanan karbon. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi hub penyimpanan karbon regional.

Langkah Pemerintah dan Arah Transisi Energi

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan dukungan penuh terhadap percepatan proyek CCS. Ia mendorong pemerintah memperkuat regulasi, memberikan insentif investasi, serta mempererat koordinasi antarinstansi.

“Kolaborasi yang solid akan membawa Indonesia menjadi pusat CCS Asia Pasifik sekaligus mempercepat transisi energi berkeadilan”, ujar Eddy.

Dengan dukungan internasional dan potensi penyimpanan yang besar, Indonesia kini berada di jalur tepat menuju masa depan energi bersih. (MR-05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *