Mataredaksi.com, BOGOR — Daniele De Rossi menikmati momentum baru bersama Genoa C.F.C. Timnya meraih kemenangan kedua secara berurutan setelah menumbangkan Udinese Calcio 2-1 dalam laga pekan ke-14 lanjutan Serie A Italia 2025/2026, di Stadion Bluenergy, berkat eksekusi penalti Ruslan Malinovskyi dan gol menit akhir dari Brooke Norton-Cuffy, Selasa (9/12/2025) dini hari WIB. Tiga poin ini mengangkat Genoa keluar dari zona merah dan memperkuat posisi De Rossi sebagai pelatih anyar.

“Saya Menyalin dari Gasperini, Tidak Menciptakan Apa Pun”
De Rossi menolak mengambil kredit berlebihan atas permainan Genoa yang mulai solid. Ia menjelaskan bahwa pendekatan taktik timnya berangkat dari prinsip sederhana yang sudah lama menjadi ciri sepak bola Italia.
“Kami mencoba memanfaatkan seluruh lebar lapangan dan menutup aksi saat masuk ke area. Tapi saya tidak menciptakan apa pun. Saya menyalin dari Gasperini dan semua pelatih yang melakukannya dengan baik”, ujar De Rossi dilansir Mataredaksi dari StatoQuotidiano.it.
Ia menegaskan bahwa dirinya lebih menekankan efisiensi ketimbang eksperimen, dengan fokus pada penerapan sistem yang mudah dipahami pemain.
Norton-Cuffy, Kejutan Manis dari Sisi Sayap

Gol penentu Norton-Cuffy menjadi sorotan tersendiri. De Rossi menyebut pemain muda Inggris itu memiliki karakter kuat dan rasa ingin tahu besar.
“Dia anak yang penuh rasa ingin tahu, selalu bertanya, dan itu kejutan yang menyenangkan. Dia harus belajar menggunakan eksplosivitasnya dengan benar. Dalam waktu dekat, dia akan mencapai kekuatan yang mengerikan”, kata De Rossi.
Meski puas, ia tetap menyoroti kesalahan pertahanan yang memberi Udinese celah mencetak gol. “Kami akan menganalisisnya dengan tenang”, tegasnya.
Anekdot Zaniolo: ‘Hinaan Penuh Kasih Sayang’

Dalam sesi wawancara, De Rossi membagikan cerita ringan mengenai Nicolò Zaniolo, mantan anak asuhnya di Roma.
“Saya tidak bisa mengulang apa yang saya katakan kepadanya, kecuali saya mau berbohong. Itu salah satu hinaan penuh kasih sayang yang biasa saya lontarkan”, ucapnya.
Ia mengenang kedekatan mereka selama di Roma, termasuk sebelum debut Liga Champions Zaniolo. “Ia sudah merasa sebagai juara—dengan sedikit kelakuan nakal itu”.
Evaluasi Laga: Menang, Tapi Masih Bisa Lebih Baik

De Rossi menilai performa timnya belum sepenuhnya stabil. Ia menyoroti fase babak pertama yang terlalu defensif.
“Kami memindahkan pusat gravitasi terlalu jauh ke belakang. Setelah keluar dari tekanan, Anda harus melawan penyerang. Kami sedang memperbaikinya. Kami baru bekerja bersama dalam waktu singkat, tapi poin-poin ini sangat berarti”, jelasnya.
Ia menegaskan target jangka pendek Genoa: menjauh dari zona berbahaya dan naik ke posisi yang lebih ambisius.
‘Keluarga yang Berjuang’
Di akhir wawancara, De Rossi memberi penghargaan kepada staf dan pelatih terdahulu. “Tim ini seperti keluarga, dan penghargaan juga untuk mereka yang melatih sebelumnya. Melihat para pemain berjuang dan memberikan segalanya adalah kebahagiaan bagi seorang pelatih”, ujarnya.
Genoa kini menunjukkan kekompakan dan kepercayaan diri baru. De Rossi melangkah maju dengan pendekatan rendah hati, belajar, dan membangun identitas kepelatihannya di Serie A. (MR-03)






