Penguatan Pengamatan di Stasiun Citeko
Mataredaksi.com, BOGOR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya penguatan pengamatan iklim dan kualitas udara di wilayah pegunungan. Langkah ini krusial untuk memahami perubahan iklim sekaligus mendukung pembangunan nasional.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Stasiun Meteorologi Kelas III Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/1/2026).

Stasiun Citeko, Posisi Strategis untuk Observasi
Kepala Stasiun Meteorologi Citeko, Fathuri Syabani, menuturkan stasiun berdiri sejak 1983 dan menjadi salah satu stasiun sinoptik yang masih beroperasi di Jabodetabek, khususnya Bogor–Puncak. Stasiun ini berada 910 meter di atas permukaan laut, tepat di hulu Sungai Ciliwung.
“Data curah hujan Citeko sering digunakan sebagai peringatan dini untuk kenaikan muka air di Bendung Katulampa. Hujan lebat di Citeko biasanya memengaruhi Katulampa sekitar dua jam kemudian”, jelas Fathuri.
Ia menambahkan, Citeko mendukung keselamatan masyarakat melalui peringatan dini banjir, keselamatan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, serta edukasi kebencanaan dan lingkungan bagi pelajar.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menilai posisi Stasiun Citeko sangat strategis karena berada di ketinggian dengan gangguan aktivitas perkotaan minimal. Stasiun seperti Citeko jumlahnya terbatas di Indonesia.
“Selain Citeko, ada Kototabang sebagai stasiun Global Atmosphere Watch (GAW). Sebagian besar stasiun lain berada di dataran rendah atau bandara”, jelas Faisal.
Peran Data Iklim dan Kualitas Udara
Faisal menjelaskan, kualitas udara, termasuk pencemaran dan Gas Rumah Kaca (GRK), terkait erat dengan sistem iklim. Data pengamatan ini menjadi fondasi analisis jangka panjang. Ia memberi analogi: cuaca bersifat dinamis, sedangkan iklim adalah sifat dasar atmosfer yang terbentuk dari proses panjang.

“Untuk memahami cuaca, kita harus tahu sifatnya, yaitu iklim. Kedeputian Klimatologi mempelajari sifat atmosfer agar data bisa menjadi dasar prakiraan meteorologi”, ujarnya.
Selain menyampaikan informasi cuaca dan peringatan dini, BMKG juga mendukung pembangunan lintas sektor, seperti pangan, air, energi, pariwisata, dan infrastruktur nasional.
“Data seperti kelembaban tanah sangat penting. Bahkan Kementerian Pertanian sempat terkejut mengetahui BMKG memantau hal itu”, tambah Faisal.

Pengelolaan SDM dan Kapasitas Pegawai
Faisal menyoroti pengelolaan teknisi dan peralatan. Dengan jumlah teknisi yang besar, pengelolaan SDM secara optimal penting untuk pemeliharaan seluruh unit BMKG. Ia mendorong pegawai untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas.
“Belajar itu sepanjang hayat. Jadikan semua tempat sekolah dan semua orang guru. Observasi, pemantauan, analisis, hingga diseminasi informasi harus dilakukan sebaik-baiknya untuk masyarakat”, tegasnya.
Prioritas Pengamatan di Pegunungan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menekankan pentingnya pengamatan di wilayah tinggi seperti Citeko. Stasiun ini menampilkan atmosfer latar yang minim polusi lokal. Data dari Citeko membantu BMKG memantau perubahan iklim global dengan lebih akurat.

Sejak 2016, BMKG memantau Gas Rumah Kaca (GRK) di Citeko bekerja sama dengan National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang. Meski kerja sama resmi berakhir pada 2022, BMKG tetap mengoperasikan peralatan hibah yang mengukur CO₂, CH₄, PM2.5, dan parameter kualitas udara setiap hari.
Ardhasena menekankan, “Metana menjadi perhatian utama karena potensi pemanasan globalnya jauh lebih tinggi dibanding CO₂, meski masa hidupnya lebih singkat”.
Data Citeko menunjukkan tren kenaikan GRK sejalan dengan tren global. Sementara polusi PM2.5 di pegunungan berbeda dengan perkotaan karena dipengaruhi transportasi polutan lintas wilayah dan kondisi cuaca lokal.
Komitmen BMKG untuk Mitigasi dan Pembangunan

Kepala Balai Besar MKG Wilayah II, Hartanto, menegaskan peran vital Stasiun Meteorologi Citeko dalam sistem peringatan dini banjir Jakarta. Ia menekankan pentingnya pemeliharaan dan modernisasi peralatan, sekaligus menjaga data manual sebagai pembanding historis jangka panjang.
“Penguatan pengamatan atmosfer, kualitas udara, dan iklim di lokasi strategis seperti Citeko memastikan data yang andal. Data ini mendukung mitigasi bencana, perlindungan lingkungan, dan perencanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan”, ujar Hartanto.
Melalui langkah ini, BMKG menunjukkan komitmen kuat untuk menyediakan data yang akurat dan relevan. Semua pengamatan mulai dari cuaca, kualitas udara, hingga GRK dikelola secara sistematis agar dapat dimanfaatkan lintas sektor. Dengan begitu, pembangunan nasional dapat berjalan selaras dengan upaya mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan. (MR-03)






