Mataredaksi.com, BOGOR – Cuaca yang tidak menentu belakangan ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Kepala Puskesmas Cibulan, dr. Nurul Amalia, mengatakan perubahan cuaca mendadak kerap melemahkan daya tahan tubuh. Akibatnya, masyarakat lebih rentan terserang penyakit.
“Penyakit yang sering muncul antara lain batuk, pilek, demam, dan radang tenggorokan”, jelas dr. Nurul, Selasa (16/9/2025).
Ia mengimbau masyarakat menjaga kebugaran tubuh dengan pola hidup sehat. Misalnya, rutin mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur dan buah serta berolahraga. “Kalau imun terjaga, penyakit tidak mudah menyerang”, tambahnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Citeko-Cisarua, Fatuhri, menjelaskan kondisi cuaca dinamis ini terjadi di sebagian besar wilayah Jawa Barat. Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan membuat hujan dan panas muncul silih berganti.
“Perubahan panas-hujan-panas adalah tipikal cuaca peralihan musim”, ungkap Fatuhri. Ia menambahkan, pengaruh angin monsun Asia dan Australia serta posisi semu matahari yang bergerak ke belahan bumi selatan turut memengaruhi kondisi atmosfer.
Meski kemarau tahun ini tidak terlalu kering atau disebut ‘kemarau basah’, Fatuhri memperingatkan periode musim hujan yang mulai Oktober 2025 tetap berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem dan perubahan mendadak.
Berdasarkan data curah hujan, wilayah Bogor yang termasuk zona musim bahkan praktis tidak mengalami kemarau pada 2025. Dengan demikian, hujan berlangsung hampir sepanjang tahun. (MR-05)






