Sinergi Udara dan Darat: Strategi Ampuh Tangani Karhutla di Indonesia

KEPALA BMKG Dwikorita Karnawati memberikan paparan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla dan operasi modifikasi cuaca, di Gedung Command Center BMKG, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Rapat dihadiri oleh perwakilan BNPB, TNI, Polri, dan instansi terkait guna memperkuat sinergi pengendalian kebakaran hutan dan lahan. (Sumber Foto: Dok. BMKG)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa penggunaan sains dan teknologi sangat penting dalam operasi modifikasi cuaca (OMC). Dengan cara ini, BMKG berhasil mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengendalikan asap lintas batas.

Prediksi dan Antisipasi Karhutla

Pada 2023, BMKG telah memprediksi potensi karhutla akibat El Nino sejak enam bulan sebelumnya. Oleh karena itu, BMKG terus melakukan pemantauan dan menjalankan OMC bersama BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian PUPR.

“OMC mulai dilakukan sejak musim hujan. Tujuannya untuk menjaga muka air tanah gambut agar tetap lembap saat musim kemarau”, ujar Dwikorita dalam rapat koordinasi di Jakarta, 12 Agustus 2025.

Hasil Positif Operasi Modifikasi Cuaca

Sejak 2015, OMC berhasil menurunkan karhutla rata-rata sebesar 23 persen. Bahkan, pada 2019, OMC mampu memperpendek masa puncak kemarau hingga 30-50 hari, meski El Nino terjadi.

Prediksi Karhutla 2025 dan Pantauan Muka Air Tanah

Pada Agustus 2025, BMKG memperkirakan karhutla masih berpotensi terjadi di Riau, Sumatra Utara, Jawa, dan Sulawesi. Namun, luas wilayah rawan diperkirakan menurun mulai September hingga Oktober.

Pantauan muka air tanah (TMAT) di enam provinsi rawan menunjukkan kondisi umumnya aman. Meskipun demikian, titik muka air tanah rendah tetap menjadi perhatian serius.

Pelaksanaan dan Rencana Operasi Modifikasi Cuaca

Saat ini, OMC sedang berjalan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan. Dana berasal dari berbagai instansi yang mendukung kegiatan ini. BMKG terus memperbarui rekomendasi berdasarkan kondisi terkini di lapangan.

Antisipasi Risiko Karhutla pada 2027

BMKG juga memprediksi bahwa risiko karhutla akan meningkat kembali pada 2027 karena potensi El Nino. Oleh sebab itu, pemerintah memperkuat kesiapsiagaan dan berbagai langkah pencegahan, termasuk melalui OMC.

Penanganan Terpadu Karhutla

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu dari udara dan darat. Pemerintah juga sudah memproses hukum 55 pelaku pembakaran lahan.

Kebijakan Pembukaan Lahan

Selain itu, pemerintah pusat dan daerah mencabut izin membuka lahan dengan cara membakar. Sebagai gantinya, masyarakat mendapatkan bantuan alat berkebun agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Dukungan Operasi Udara dan Darat

BNPB menyiapkan lima pesawat OMC dan 12 helikopter waterbombing. Selain itu, sebanyak 500 petugas gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni dikerahkan untuk memadamkan kebakaran.

Pemadaman Asap Setelah Hujan

Satgas darat memadamkan asap yang muncul setelah hujan. Dengan demikian, asap tidak menyebar ke negara tetangga.

Dampak Karhutla dan Biaya Penanganan

Karhutla menyebabkan kerugian besar, baik materiil maupun kesehatan. Sejak Mei 2025, petugas sudah bekerja selama 139 jam dengan biaya sekitar Rp 300 juta per jam. Dua korban jiwa tercatat di Kalimantan Barat. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *