ASEAN Jadi Pusat Inovasi dan Investasi, Ravindra Airlangga Yakin Peran Indonesia Krusial

KETERANGAN - Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Ravindra Airlangga saat memberikan keterangannya, di Jakarta, Selasa (4/11/2025). Ia menilai kawasan ASEAN saat ini bukan hanya pasar besar, melainkan juga pusat inovasi dan investasi di kawasan Indo-Pasifik. (Sumber foto: Dok. Humas DPR-RI)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Ravindra Airlangga, menegaskan ASEAN kini bukan sekadar pasar besar. Kawasan ini juga menjadi pusat inovasi dan investasi di kawasan Indo-Pasifik.

Populasi dan PDB ASEAN Dorong Daya Saing

Ravindra menyebut ASEAN dihuni sekitar 692 juta jiwa. Kawasan ini menyumbang 7,3% PDB global dan berkontribusi 8,8% terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dalam sepuluh tahun terakhir (World Economics, 2025). Total PDB kolektif ASEAN mencapai lebih dari US $4 triliun, menjadikannya ekonomi ke-4 terbesar dunia. Angka ini tumbuh 25% lebih cepat dibanding rata-rata global (IMF, 2025).

Digitalisasi dan Bonus Demografi Jadi Magnet Investasi

Menurut Ravindra, faktor digitalisasi, integrasi ekonomi, dan bonus demografi menjadikan ASEAN magnet investasi. Pada 2030, kawasan ini diprediksi menjadi pemasok tenaga kerja ketiga terbesar di dunia. Hal ini menegaskan posisi strategis ASEAN di kancah global.

“Faktor seperti digitalisasi, integrasi ekonomi, dan bonus demografi (by 2030 third supplier of labor) menjadikan ASEAN bukan hanya pasar besar, melainkan juga pusat inovasi dan investasi di kawasan Indo-Pasifik”, papar Ravindra lewat keterangannya di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

ASEAN “Keajaiban” Pasca 50 Tahun

Penilaian ini sejalan dengan Prof. Kishore Mahbubani. Ia menyebut ASEAN sebagai “keajaiban” karena berhasil menghindari konflik mayor selama 50 tahun. Mahbubani menyoroti diversitas ekstrim populasi ASEAN dari segi budaya, agama, dan gaya hidup.

“Hal ini tentu salah satunya berkat ‘Treaty of Amity’ yang ditandatangani 1976 di Bali – nilai nilai organisasi ASEAN yang berdasarkan pembangunan konsensus, penghindaran use of force, penghormatan terhadap kedaulatan bangsa bangsa. TAC harus terus menjadi pedoman hubungan antara negara ASEAN dan mitranya, apalagi di era Geopolitik yang semakin tak menentu”, jelas politisi Partai Golkar ini.

TAC Jadi Pilar Stabilitas Kawasan

Ravindra menekankan pentingnya Treaty of Amity and Cooperation (TAC) yang ditandatangani pada 1976 di Bali. TAC mendorong konsensus, penghindaran kekerasan, dan penghormatan kedaulatan negara. Ravindra menambahkan, TAC harus tetap menjadi pedoman hubungan ASEAN dengan negara mitra.

“Nilai-nilai TAC terus relevan dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan kerjasama kawasan”, ujarnya. Ulang tahun TAC ke-50 pada 2026 menjadi momentum memperkuat prinsip ini.

Peran Strategis Indonesia di ASEAN

Indonesia menyumbang hampir setengah populasi ASEAN dan lebih dari sepertiga PDB kawasan. Ravindra menegaskan posisi Indonesia sangat menentukan arah strategis ASEAN. Bersama anggota lain, Indonesia mendorong ASEAN-DEFA (Digital Economy Framework Agreement). DEFA menjadi perjanjian pertama yang mengintegrasikan ekonomi digital kawasan.

ASEAN Jadi Platform Geopolitik

ASEAN menjaga hubungan baik dengan China, AS, Rusia, Jepang, India, dan Uni Eropa. Kawasan ini menjadi platform terpercaya untuk dialog dan kerja sama. Contohnya, perdagangan ASEAN dengan China naik 15%, dan dengan AS meningkat 12% pada 2024. Indonesia juga mendorong Myanmar melaksanakan 5-PC sesuai prinsip TAC.

Dorongan Menuju Investasi dan Stabilitas

Ravindra menekankan, kombinasi populasi besar, pertumbuhan ekonomi cepat, dan digitalisasi membuat ASEAN menarik bagi investor global. Kawasan ini bukan hanya pasar besar, tetapi pusat inovasi dan investasi Indo-Pasifik.
“Faktor-faktor ini menjadikan ASEAN tidak hanya sebagai pasar besar, tetapi juga pusat inovasi dan investasi di Indo-Pasifik”, tandas Ravindra.

Seperti diketahui, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono pada KTT menyatakan bahwa ulang tahun TAC (Treaty of Amity and Cooperation) ke-50 pada 2026 adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai nilai ASEAN: perdamaian, stabilitas dan kerjasama kawasan. “Beliau mengapresiasi kepemimpinan Malaysia dalam memfasilitasi gencatan senjata Thailand Kamboja”, tambah Ravindra.

Indonesia juga mengapresiasi komitmen keduanya untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan konsultasi. Penandatanganan ini turut disaksikan dan mendapat dukungan positif oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (MR-01/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *