Mataredaksi.com, BOGOR – Pasar energi global masih menghadapi tekanan setelah gangguan distribusi minyak dan gas akibat penutupan Selat Hormuz serta rusaknya infrastruktur energi di Timur Tengah.
Di tengah kondisi itu, ancaman baru muncul dari potensi penguatan fenomena El Nino dalam waktu dekat. Jika El Nino menguat, harga listrik, batu bara, dan gas dunia bisa naik secara bersamaan. Kondisi ini berisiko memicu gejolak baru di pasar energi internasional.
Dikutip Mataredaksi dari Reuters melaporkan sejumlah lembaga meteorologi memprediksi fase El Nino kuat mulai terbentuk pada Mei. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga melihat pola iklim global bergerak ke arah yang sama.
Fenomena ini berpotensi memicu gelombang panas di banyak wilayah, terutama Asia. Saat suhu naik, kebutuhan listrik juga meningkat karena penggunaan pendingin ruangan bertambah.
Asia Jadi Titik Tekanan
Asia menjadi kawasan paling rentan karena menyerap lebih dari separuh kebutuhan listrik dunia. Menurut lembaga energi Ember, kawasan ini memakai sekitar 53 persen konsumsi listrik global.
Di sisi lain, banyak negara Asia masih bergantung pada batu bara untuk memasok listrik. Reuters mencatat batu bara menyuplai sekitar 70 persen listrik India dan 55 persen listrik China.
Ketergantungan itu membuat permintaan batu bara berpotensi melonjak saat El Nino memicu musim panas panjang. Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia bisa mendapat keuntungan dari kenaikan permintaan tersebut.
Setelah sempat melemah akibat naiknya energi bersih dan turunnya konsumsi industri, ekspor batu bara Indonesia ke Asia berpotensi pulih jika kebutuhan listrik meningkat.
Dampak ke Eropa dan Amerika
Permintaan gas alam cair atau LNG juga bisa naik, tetapi harganya masih jauh di atas batu bara. Reuters mencatat harga LNG Asia mencapai sekitar US$868 per ton metrik, sedangkan batu bara ekspor Indonesia berada di kisaran US$104 per ton.
Sementara batu bara Australia sekitar US$126 per ton. Selisih harga itu membuat banyak pembangkit listrik Asia tetap memilih batu bara demi menekan biaya produksi.
Di Eropa, gelombang panas akibat El Nino dapat mendorong kenaikan impor LNG, terutama di negara yang masih bergantung pada gas. Sebaliknya, Amerika Utara berpotensi mengalami suhu lebih rendah sehingga konsumsi energi domestik dapat turun.
Perubahan cuaca ini berpotensi mengubah pola permintaan energi dunia dan memengaruhi keseimbangan pasar global dalam beberapa bulan ke depan. (MR-01)






