Juda Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,5 Persen pada Triwulan I

Paparan ekonomi - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan materi dalam National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) di Grha Bhasvara Icchana Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026). Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,5 persen, didukung peningkatan penerimaan pajak dan percepatan belanja negara. (Sumber foto: Dok. Bank Indonesia)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mampu mencapai 5,5 persen. Pemerintah menilai target itu realistis karena penerimaan pajak, belanja negara, dan konsumsi masyarakat terus menguat pada awal tahun.

Juda mengatakan itu dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026). Menurutnya, Kementerian Keuangan akan mengumumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 pada awal Mei 2026.

“Proyeksi Kementerian Keuangan pertumbuhan di triwulan I diperkirakan 5,5 persen, dengan melihat PPN dan PPnBM meningkat cukup signifikan, kemudian ekspektasi konsumen dan sebagainya. Ini yang kemudian membuat kami optimistis bahwa di triwulan I akan tumbuh 5,5 persen”, ujar Juda Agung.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang triwulan I 2026 memperkuat optimisme tersebut. Juda menyebut belanja pemerintah tumbuh cukup tinggi, yakni 31,4 persen secara tahunan.

Pendapatan negara dari pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan cukai juga naik 10,5 persen. Sementara itu, penerimaan pajak tumbuh 20,7 persen.

“Penerimaan pajak pada Januari tumbuh 30,7 persen, Februari 30,1 persen, dan Maret 7,6 persen. Jadi secara year to date tumbuh 20,7 persen”, jelas Juda.

Penerimaan Pajak dan Belanja Negara Menguat

Juda menjelaskan kenaikan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mendorong pertumbuhan penerimaan pajak hingga 57,7 persen.

Menurut Juda, kenaikan itu menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat dan dunia usaha terus tumbuh positif pada triwulan pertama tahun ini.

PPN dan PPnBM mencerminkan transaksi konsumsi dan pembelian barang, baik di sektor ritel maupun dunia usaha. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas ekonomi berjalan cukup baik”, ujarnya.

Pada triwulan I 2026, pemerintah merealisasikan 21,2 persen dari total APBN. Angka itu lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 17,1 persen.

Pemerintah juga mencatat defisit anggaran sebesar 0,93 persen hingga akhir triwulan I. Juda Agung menegaskan, percepatan belanja negara bertujuan menjaga pertumbuhan ekonomi agar masyarakat merasakan dampaknya lebih cepat.

“Belanja pemerintah tahun ini lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi merata, lebih cepat, dan terasa di tahun yang sama”, kata Juda Agung.

Juda menilai percepatan belanja negara ikut mendorong konsumsi masyarakat yang terus meningkat. Data Mandiri Spending Index (MSI), kata Juda, menunjukkan tren belanja masyarakat, termasuk barang elektronik, masih naik.

Selain itu, tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional juga tetap kuat. Meski demikian, Juda melihat ekspektasi masyarakat sempat melemah pada Maret 2026. Menurut dia, konflik di Timur Tengah menjadi penyebab pelemahan tersebut.

“Tren penguatan terjadi sejak September tahun lalu. Pada Maret memang ada sedikit pelemahan, terutama dalam ekspektasi kondisi ekonomi ke depan, dan itu dipengaruhi perang di Timur Tengah”, pungkas Juda Agung. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *