Mataredaksi.com, BOGOR – Manajer Arsenal Women Football Club, Renée Slegers, mengaku “sangat kecewa” setelah timnya tersingkir dari Liga Champions Wanita UEFA 2025/2026.
Arsenal Women FC kalah agregat 3-1 (4-3) dari Olympique Lyonnais Féminin pada semifinal, sekaligus gagal mempertahankan gelar dan menembus final, di Ullevaal Stadion, Oslo, Norwegia.
The Gunners sebenarnya datang dengan keunggulan 2-1 dari leg pertama dan berpeluang menjadi tim Inggris pertama yang mencapai final dua musim beruntun. Namun, Kim Little dan kolega gagal menjaga momentum di leg kedua yang berlangsung di markas Lyonnais, Stadion Groupama di Décines-Charpieu.
“Saya sangat kecewa. Kami datang bersama-sama dalam kerumunan, dan saya sudah mengatakan kepada para pemain bahwa mereka bekerja sangat keras, dengan rendah hati, dan saya berharap mereka mendapat hasil lebih dari ini”, kata Slegers dalam konferensi pers usai laga dilansir Mataredaksi dari ESPN.
Gol Dianulir Ubah Momentum Laga
Stadion sempat bergemuruh saat Lindsey Heaps mencetak gol pada menit ketujuh. Namun, wasit segera menganulir gol itu karena Ingrid Syrstad Engen berada dalam posisi offside dan mengganggu pandangan kiper Daphne van Domselaar.
Insiden tersebut mengubah ritme pertandingan. Olympique Lyonnais Féminin meningkatkan tempo serangan, sementara Arsenal mulai kehilangan kontrol permainan.
Lyon Ambil Kendali di Babak Pertama
Tuan rumah memanfaatkan momentum dan menekan lebih agresif. Dua gol tercipta di babak pertama, termasuk dari titik penalti setelah Van Domselaar melanggar aturan dengan bergerak terlalu cepat saat eksekusi ulang.
Kadidiatou Diani memperlebar keunggulan lewat sundulan hasil sepak pojok. Arsenal kesulitan keluar dari tekanan karena Olympique Lyonnais Féminin menutup ruang di lini tengah dengan disiplin tinggi.
Arsenal Bangkit, Lyon Menentukan Akhir
Setelah jeda, Arsenal menaikkan intensitas permainan dan berhasil menyamakan skor melalui Alessia Russo. Gol itu membuka kembali peluang dan membuat agregat kembali seimbang.
Namun, Lyon tetap tenang dalam mengelola laga. Melchie Dumornay terlibat dalam proses serangan yang berujung kontribusi Jule Brand pada gol menit ke-86, yang memastikan kemenangan tuan rumah.
Lyon pun melaju ke final Liga Champions Wanita untuk ke-12 kalinya dalam sejarah klub. Slegers menilai timnya hampir membalikkan keadaan setelah gol penyama tersebut, tetapi kehilangan momentum di menit akhir.
Duel Dua Identitas Permainan
Slegers menyoroti perbedaan gaya kedua tim. Arsenal mengandalkan fluiditas, kreativitas, dan pergerakan cepat, sedangkan Olympique Lyonnais Féminin bermain lebih fisik, terstruktur, dan efektif dalam duel bola mati.
Ia mengakui Les Fenottes – julukan Olympique Lyonnais Féminin – mengeksekusi set piece dengan sangat baik. Arsenal sebenarnya sudah mengantisipasi situasi itu, tetapi gagal meredamnya di momen krusial.
Set Piece Jadi Titik Lemah Arsenal
Arsenal kebobolan 19 gol dari situasi bola mati dalam dua musim terakhir di Liga Champions UEFA dan Women’s Super League (WSL).
Jumlah itu jauh lebih tinggi dibanding Chelsea FC Women yang hanya kebobolan sembilan pada periode yang sama. Catatan tersebut kembali menjadi faktor pembeda dalam laga semifinal ini.
Fokus Kembali ke Kompetisi Domestik
Arsenal mengalihkan perhatian ke WSL untuk menjaga peluang bersaing dengan Manchester City dalam perebutan gelar.
Slegers memberi waktu kepada pemain untuk memulihkan kondisi mental sebelum kembali ke lapangan. Ia menegaskan laga melawan Brighton menjadi prioritas berikutnya yang harus dihadapi dengan kesiapan penuh.
Lyon Tunggu Lawan di Final
Les Fenottes racikan Jonatan Giráldez menunggu pemenang semifinal lain antara FC Barcelona Femení dan FC Bayern München, yang masih imbang 1-1 setelah leg pertama. (MR-02)






