BMKG dan Kementan Satukan Data Iklim–Cuaca untuk Perkuat Strategi Ketahanan Pangan

KEPALA BMKG Teuku Faisal Fathani dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono berdiskusi mengenai integrasi data iklim dan teknologi cuaca dalam audiensi strategis di Kantor Kementan, Jl Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Kamis (20/11/2025). Kedua institusi sepakat memperkuat sinergi pemanfaatan data cuaca, iklim, dan geofisika demi meningkatkan ketahanan pangan nasional. (Sumber foto: Dok. BMKG Pusat)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) dan Kementerian Pertanian (Kementan) RI memperkuat kolaborasi dalam pemanfaatan data cuaca, iklim, dan geofisika untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Kedua lembaga menegaskan komitmen tersebut dalam audiensi strategis di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta dilansir Mataredaksi, Jumat (21/11/2025).

BMKG Perluas Teknologi Pemantauan Cuaca Berbasis AI

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa lembaganya kini mengoperasikan lebih dari 10.000 instrumen pengamatan. Perangkat tersebut mencakup radar cuaca, sensor iklim, hingga Automatic Weather Station (AWS). Dengan jumlah itu, BMKG mampu menyajikan prediksi curah hujan, analisis musim, indeks kekeringan, serta dinamika ENSO dan IOD.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-06.40.59.jpeg?ssl=1

Faisal menegaskan bahwa seluruh informasi cuaca harus tersampaikan dalam format yang mudah dipahami petani. Karena itu, BMKG menghadirkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Big Data yang mampu menampilkan data hingga tingkat desa. Selain itu, BMKG menyediakan chatbot yang memungkinkan petani menanyakan waktu tanam berbasis radar 10 menit di lokasi spesifik mereka.

“Informasi tersebut harus bersifat actionable, mudah dipahami, dan dapat langsung dimanfaatkan oleh penyuluh dan petani di lapangan”, ujar Faisal.

Modifikasi Cuaca Jadi Instrumen Strategis Sektor Pertanian

Selain teknologi pemantauan, BMKG menyoroti pentingnya operasi modifikasi cuaca (OMC). Melalui OMC, pemerintah bisa meningkatkan curah hujan di wilayah tampungan air atau menahan hujan menjelang panen. Dengan demikian, produksi pangan dapat tetap stabil.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-06.40.59-2.jpeg?ssl=1

Faisal juga mencontohkan praktik Royal Rainmaking di Thailand. Ia menilai Indonesia perlu mengembangkan sistem modifikasi cuaca yang lebih terpadu, terutama saat menghadapi fenomena El Nino atau perubahan pola hujan ekstrem.

Sinergi Iklim dan Irigasi Penting untuk Optimalkan Air

Selanjutnya, pembahasan turut mengarah pada persoalan irigasi. Menurut BMKG, distribusi air masih terhambat karena pembagian kewenangan antara pusat, provinsi, dan kabupaten. Kondisi tersebut membuat sebagian lahan tidak menerima pasokan air secara merata.

Faisal menegaskan bahwa revitalisasi irigasi akan berjalan lebih efektif jika terhubung dengan informasi iklim. Dengan data prakiraan hujan dan peringatan dini kekeringan, pemerintah bisa mengatur pola distribusi air secara lebih tepat.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-06.41.57.jpeg?ssl=1

Kementan Dorong Sistem Digital dan Pemanfaatan Data Iklim

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyambut paparan BMKG dan menilai data iklim berperan besar dalam penentuan waktu tanam. Ia mendorong penguatan ekosistem digital Kementan agar informasi cuaca tersampaikan cepat kepada penyuluh dan petani melalui dashboard dan grup daring.

Ia juga mendorong perbaikan strategi distribusi bantuan seperti pompanisasi. Dengan dukungan data hidrologi dan cuaca, pemerintah dapat menyalurkan alat secara lebih tepat sasaran.

Sudaryono kembali menegaskan perlunya adopsi model modifikasi cuaca Thailand.

“Menjelang musim kemarau, semua waduk harus dipastikan penuh melalui modifikasi cuaca. Tidak boleh ada waduk kosong”, ujarnya.

Indramayu Jadi Lokasi Proyek Percontohan Nasional

Sebagai tindak lanjut, BMKG dan Kementan sepakat menyusun Nota Kesepahaman (MoU) sekaligus menyiapkan proyek percontohan integrasi data dan modifikasi cuaca di Kabupaten Indramayu. Proyek ini ditargetkan menjadi model nasional untuk prediksi pola tanam dan estimasi produksi yang lebih presisi.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-06.40.59-3.jpeg?ssl=1

Pertemuan tersebut turut menghadirkan Pelaksana tugas (Plt.) Sestama BMKG Guswanto, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto, Direktur Layanan Iklim Terapan Marjuki, serta jajaran pimpinan Kementan.

BMKG Siap Perkuat Layanan Cuaca untuk Sektor Pertanian

Menutup pertemuan, Faisal memastikan BMKG siap memperkuat dukungan teknis untuk sektor pertanian. Layanan tersebut mencakup prakiraan cuaca dan iklim, validasi data satelit, layanan iklim terapan, hingga dukungan operasi modifikasi cuaca. Dengan sinergi ini, BMKG dan Kementan optimistis dapat meningkatkan resiliensi pertanian Indonesia terhadap perubahan iklim. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *