Mataredaksi.com, BOGOR – Al-Ahli Saudi FC sukses mempertahankan gelar juara AFC Champions League Elite 2025/2026 setelah menundukkan FC Machida Zelvia dengan skor 1-0 pada laga final, di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Sabtu (25/4/2026) malam WIB.
Gol tunggal Firas Al-Buraikan pada babak perpanjangan waktu memastikan kemenangan dramatis Al-Ahli Saudi FC, yang harus bermain dengan 10 orang sejak pertengahan babak kedua akibat kartu merah Zakaria Hawsawi.
Al-Ahli Pertahankan Gelar
Kemenangan ini menjadikan Al-Ahli SFC sebagai klub kedua yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions Asia Elit secara beruntun dalam hampir seperempat abad terakhir.
Sejak awal laga, Al-Ahli SFC dan FC Machida Zelvia tampil hati-hati. Kedua tim sama-sama disiplin menjaga pertahanan sehingga peluang bersih sulit tercipta.
Kesempatan terbaik pertama hadir pada menit ke-13 lewat aksi Wenderson Galeno. Pemain asal Brasil itu menerima umpan terobosan dari Enzo Millot, lalu bergerak dari sisi kiri sebelum melepaskan tembakan yang masih mampu ditepis kiper Machida, Kosei Tani.
Bola rebound sempat mengarah ke Ivan Toney, tetapi Daihachi Okamura sigap melakukan intersepsi penting dan menggagalkan peluang emas Al-Ahli SFC.
Final Berjalan Ketat
Tiga menit kemudian, Galeno kembali mengancam melalui umpan silang berbahaya ke kotak penalti. Bek Al-Ahli, Merih Demiral, menyambut bola dengan tembakan jarak dekat, tetapi Kotaro Hayashi melakukan blok krusial yang membuat bola membentur mistar.
Machida yang tampil disiplin perlahan mulai menemukan ritme permainan. Mereka mampu menahan tekanan Al-Ahli dan menjaga skor tetap imbang hingga turun minum.
Pertandingan berubah drastis pada menit ke-66 ketika Zakaria Hawsawi menerima kartu merah langsung.
Insiden bermula saat Hawsawi terlibat duel dengan Tete Yengi di dekat garis tepi lapangan. Setelah sempat terlibat adu fisik, Hawsawi melakukan pelanggaran keras yang membuat wasit Ilgiz Tantashev langsung mengusirnya.
Unggul jumlah pemain membuat Machida semakin percaya diri menekan pertahanan Al-Ahli.
Pada menit ke-81, Yuki Soma hampir membawa wakil Jepang unggul setelah melepaskan tembakan keras dari sisi kiri. Namun, Édouard Mendy berhasil melakukan penyelamatan penting.
Bola liar kemudian jatuh ke kaki Hiroyuki Mae, tetapi upayanya justru membentur rekan setim sendiri sehingga peluang emas itu terbuang.
Gol Penentu di Extra Time
Meski unggul jumlah pemain, Machida gagal memanfaatkan momentum dan laga harus berlanjut ke babak tambahan. Saat banyak pihak menilai Machida berada di atas angin, Al-Ahli justru menunjukkan mental juara.
Pada menit ke-96, Riyad Mahrez mengirim umpan silang akurat dari sisi kanan ke tiang jauh. Franck Kessié mencoba mengontrol bola, tetapi Firas Al-Buraikan bergerak cepat menyambar bola liar dengan sepakan keras yang tak mampu dihentikan Kosei Tani. Gol itu menjadi pembeda sekaligus membungkam perlawanan Machida.
Tertinggal satu gol membuat Machida bermain lebih terbuka pada sisa waktu pertandingan. Namun, justru Al-Ahli yang hampir menggandakan keunggulan pada menit ke-116.
Galeno memenangkan duel di lini tengah dan melaju bebas ke area pertahanan lawan. Sayangnya, penyelesaian akhirnya masih melebar.
Machida memperoleh peluang terakhir pada menit ke-120 saat Mendy gagal menangkap bola silang. Namun, Demiral sigap menyapu bola sebelum penyerang Machida memanfaatkannya. Aksi penyelamatan itu memastikan kemenangan Al-Ahli.
Mental Juara Sang Juara Bertahan
Keberhasilan ini mengukuhkan Al-Ahli sebagai juara bertahan dan menjadikan mereka tim pertama yang menjuarai Liga Champions Asia Elit secara beruntun sejak Al-Ittihad pada 2004 dan 2005.
Bagi pemain-pemain seperti Riyad Karim Mahrez, Édouard Mendy, Franck Kessié, dan Ivan Toney, gelar ini menjadi bukti dominasi Al-Ahli Saudi FC di level Asia.
Meski tampil tidak dominan dan harus bermain dengan 10 orang, tim berjuluk Al-Malaki (The Royals) menunjukkan mental juara dengan bertahan disiplin hingga akhirnya mencetak gol kemenangan.
Kemenangan ini bukan sekadar soal kualitas, tetapi juga soal karakter dan ketahanan dalam menghadapi tekanan.
Dengan cara dramatis, Al-Ahli Saudi FC kembali berdiri di puncak Asia dan menegaskan status mereka sebagai kekuatan besar di sepak bola benua tersebut.
Dominasi Al-Ahli di Asia
Keberhasilan mempertahankan gelar ini memperlihatkan kekuatan mental Al-Ahli Saudi FC sebagai salah satu klub terbaik Asia saat ini.
Mereka tidak hanya mengandalkan kualitas individu para pemain bintang, tetapi juga menunjukkan disiplin kolektif saat berada dalam tekanan berat.
Bermain dengan 10 orang selama hampir satu jam membuat Al-Ahli Saudi FC harus mengubah pendekatan permainan. Mereka lebih fokus menjaga kedalaman pertahanan sambil menunggu peluang dari serangan balik.
Strategi itu berjalan efektif karena para pemain mampu menjaga konsentrasi hingga akhir pertandingan.
Peran pemain berpengalaman seperti Riyad Mahrez, Édouard Mendy, dan Franck Kessié juga terlihat sangat penting. Mereka membantu menjaga ketenangan tim ketika tekanan dari Machida meningkat.
Mahrez menunjukkan kualitasnya lewat assist penting pada babak tambahan, sementara Mendy beberapa kali melakukan penyelamatan yang menjaga harapan tim tetap hidup.
Di sisi lain, kemenangan ini menjadi bukti bahwa Al-Ahli tidak hanya kuat dalam menyerang, tetapi juga mampu bertahan dalam situasi sulit.
Ketahanan seperti itu sering menjadi pembeda pada pertandingan final, terutama ketika tekanan mental berada pada level tertinggi.
Bagi Machida Zelvia, kekalahan ini memang menyakitkan, tetapi penampilan mereka tetap layak mendapat apresiasi.
Sebagai tim yang menjalani debut di kompetisi ini, mereka mampu memberi perlawanan sengit kepada juara bertahan dan memaksa laga berlangsung hingga perpanjangan waktu.
Meski gagal meraih gelar, Machida menunjukkan bahwa mereka memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi Asia.
Kemenangan ini memperkuat posisi Al-Ahli sebagai salah satu kekuatan utama di sepak bola Asia dan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan musim berikutnya. (MR-02)






