Mataredaksi.com, BOGOR – Perhelatan Piala Dunia FIFA 2026 seharusnya mendorong lonjakan besar sektor pariwisata di Amerika Serikat. Namun, sejumlah laporan terbaru menunjukkan kondisi berbeda menjelang turnamen.
American Hotel & Lodging Association (AHLA) mencatat bahwa tingkat pemesanan hotel di kota-kota tuan rumah masih berada di bawah ekspektasi. Lembaga yang mewakili lebih dari 32.000 properti hotel di AS itu menilai tren tersebut tidak sejalan dengan proyeksi awal industri.
AHLA juga menyoroti klaim Fédération Internationale de Football Association (FIFA) yang menyebut lebih dari lima juta tiket pertandingan telah terjual. Menurut asosiasi tersebut, ketidaksesuaian antara penjualan tiket dan pemesanan hotel memunculkan kekhawatiran bahwa target ekonomi turnamen ini bisa meleset.
AHLA Soroti Blok Kamar dan Dugaan Permintaan Buatan
Dalam laporannya, AHLA menuduh Federasi Sepak Bola Internasional memblokir kamar hotel dalam jumlah besar untuk kebutuhan internal. Menurut AHLA, langkah tersebut sempat menciptakan gambaran permintaan yang tidak mencerminkan kondisi pasar sebenarnya.
Akibatnya, harga kamar sempat naik. Namun setelah badan pengatur dan induk organisasi sepak bola internasional membatalkan sebagian besar pemesanan, pasar justru menghadapi banyak kamar kosong di sejumlah kota tuan rumah.
FIFA membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka menjalankan seluruh pemesanan sesuai kontrak dengan jaringan hotel. “Semua rilis kamar mengikuti jadwal kontrak yang telah disepakati dengan mitra hotel”, ujar juru bicara FIFA.
Tekanan Harga dan Faktor Eksternal Menahan Permintaan
Selain isu pemesanan, industri perhotelan juga menghadapi tekanan dari sisi permintaan wisatawan. Harga tiket pertandingan yang tinggi, biaya transportasi, serta pajak lokal membuat banyak penggemar menunda perjalanan.
Ketidakpastian politik dan kondisi global juga memperlambat keputusan wisatawan internasional. Di beberapa kota besar seperti Boston, tarif hotel masih bertahan di atas 300 dolar AS per malam. Kondisi ini mendorong sebagian penggemar memilih akomodasi di luar pusat kota atau mencari opsi yang lebih terjangkau.
Sejumlah penggemar internasional mengaku masih menunggu kepastian tiket dan jadwal pertandingan sebelum memesan akomodasi. Mereka mempertimbangkan biaya total perjalanan yang mencakup tiket, hotel, dan transportasi antar kota tuan rumah.
Chris Hancock, seorang penggemar asal Inggris yang telah beberapa kali menghadiri Piala Dunia mengatakan kelompoknya masih berhitung ketat soal biaya perjalanan. “Kami selalu mencari opsi di luar pusat kota agar lebih hemat. Tapi kali ini anggarannya terasa jauh lebih ketat”, ujarnya.
Risiko Ekonomi dan Target yang Terancam
Sebelumnya, studi yang dikutip FIFA memperkirakan Piala Dunia akan menciptakan sekitar 185.000 lapangan kerja serta menambah sekitar 17,2 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat.
Namun, AHLA menilai target tersebut berisiko tidak tercapai jika tingkat hunian hotel tidak meningkat hingga mendekati turnamen.
Laporan itu juga menunjukkan bahwa hingga 70 persen kamar hotel yang sempat diblok FIFA di Boston, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Seattle telah dibatalkan.
Harapan Pemulihan Menjelang Turnamen
Meski kondisi saat ini melambat, AHLA masih memperkirakan permintaan akan menguat menjelang turnamen.
Banyak penggemar masih menunggu kepastian tiket dan jadwal pertandingan sebelum memutuskan perjalanan. “Permintaan berpotensi meningkat dalam beberapa minggu ke depan”, kata perwakilan AHLA.
Strategi Hotel dan Penyesuaian Industri
Perhotelan di kota-kota tuan rumah kini menyesuaikan strategi harga untuk menghadapi ketidakpastian permintaan. Sejumlah operator mulai menawarkan paket fleksibel dan diskon jangka pendek untuk menarik wisatawan yang melakukan pemesanan mendadak. Industri menilai beberapa minggu menjelang kick-off akan menjadi penentu utama tingkat okupansi.
Sebagian penggemar internasional menunda pemesanan hingga jadwal pertandingan lebih jelas. Mereka memperhitungkan total biaya perjalanan yang mencakup tiket, akomodasi, dan transportasi antar kota. Kondisi ini memperlambat laju permintaan hotel dibandingkan proyeksi awal industri.
Jika tren ini berlanjut, pelaku industri khawatir dampak ekonomi turnamen tidak tercapai sepenuhnya, terutama pada sektor perhotelan dan jasa pariwisata di kota-kota tuan rumah.
Analis industri menilai situasi ini masih sangat dinamis. Dengan jadwal pertandingan yang semakin dekat, sebagian pelaku usaha masih berharap lonjakan pemesanan terjadi pada menit-menit terakhir. Pola serupa juga terlihat pada sejumlah turnamen besar sebelumnya, ketika permintaan meningkat tajam menjelang hari pertandingan.
Airbnb Optimistis, Industri Hotel Lebih Hati-hati
Airbnb menyebut Piala Dunia berpotensi menjadi salah satu acara dengan permintaan akomodasi terbesar dalam sejarah platform mereka, bahkan melampaui Olimpiade Paris 2024.
Namun pelaku industri hotel tetap berhati-hati dan menunggu lonjakan pemesanan pada fase akhir turnamen, ketika penggemar melakukan pemesanan mendadak.
Kesimpulan: Antara Proyeksi dan Realitas
Piala Dunia tetap membawa potensi ekonomi besar bagi Amerika Serikat. Namun, data pemesanan hotel menunjukkan kesenjangan antara proyeksi awal dan kondisi pasar saat ini.
Seiring mendekatnya laga pembuka, industri perhotelan masih menunggu apakah lonjakan wisatawan benar-benar terjadi atau justru tidak sesuai ekspektasi awal. (MR-02)
Sumber: bbc.com






