Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Juventus FC, Luciano Spalletti, mengakui timnya tampil buruk di babak pertama saat menghadapi Pafos FC sebelum akhirnya bangkit dan menang 2-0 pada pertandingan keenam Phase League Liga Champions UEFA 2025/2026, Kamis (11/12/2025) dini hari WIB.
Ia menyebut performa La Vecchia Signora (The Old Lady) – julukan Juventus – di 45 menit awal “kadang memalukan”, namun menegaskan bahwa dirinya mulai melihat arah permainan yang ingin dibangun, terutama melalui formasi 4-2-3-1.
Babak Pertama yang Mengecewakan
The Old Lady (Si Nyonya Tua) tampil tersendat sejak awal laga. Pafos FC — yang tampil penuh percaya diri — beberapa kali mengancam dan bahkan membuat para suporter di Allianz Stadium meluapkan kekecewaan. Meski akhirnya meraih poin penuh, Spalletti menyebut babak pertama sebagai salah satu penampilan terburuk timnya musim ini.
“Ini kemenangan penting. Dengan kemenangan, banyak hal terlihat lebih baik”, kata Spalletti kepada Sky Sport Italia. “Namun kalau menganalisis pertandingan, tentu kami harus berbuat jauh lebih banyak. Para pemain juga tidak puas dengan diri mereka. Di babak pertama, beberapa situasi terus terang memalukan”, lanjutnya.
Perubahan Taktik yang Mengubah Arah Pertandingan
Perubahan besar terjadi setelah Spalletti memasukkan Francisco Conceição menggantikan Edon Zhegrova. Intensitas meningkat, permainan lebih agresif, dan ‘Si Nyonya Tua’ mulai menguasai jalannya laga.
Weston McKennie memecah kebuntuan pada menit ke-67 melalui tembakan keras setelah memanfaatkan umpan Andrea Cambiaso. Enam menit berselang, Jonathan David menggandakan keunggulan lewat skema serangan balik cepat.
Spalletti menyebut perubahan taktik sebagai kunci, termasuk hadirnya Lois Openda yang memberi opsi serangan lebih variatif. Namun ia menegaskan bahwa semua penyesuaian tetap bergantung pada karakter lawan.
“Saya punya rencana untuk membuat perubahan sejak babak pertama, tapi saya khawatir itu justru membuat para pemain makin bingung”, ujarnya. “Ketika semuanya berjalan sesuai latihan, kami terlihat lebih terorganisir dan lebih bertekad”.
Masalah di Lini Pertahanan
Spalletti tidak menutup mata terhadap kelemahan timnya saat bertahan. Anderson Silva hampir mencetak gol setelah tendangannya membentur tiang, sementara Michele Di Gregorio berulang kali melakukan penyelamatan krusial.
“Memang benar kami mengalami kesulitan bertahan. Kami butuh bek tengah berkaki kanan yang tersedia lagi, karena Kalulu seharusnya bermain sebagai bek sayap. Cambiaso sangat bagus ketika menyerang, tetapi menghadapi pemain fisik kuat, ia kadang kesulitan”, jelasnya.
Spalletti menambahkan bahwa beberapa kesalahan dasar membuat Juventus gagal memanfaatkan situasi berbahaya. “Kadang luar biasa melihat bagaimana kami melakukan kesalahan murah. Tapi inilah level kami sekarang”, imbuhnya.
Jadwal Padat Hambat Progres Tim
Kemenangan ini menjadi yang kedua beruntun bagi Juventus di Liga Champions dan menjaga peluang mereka untuk finis di zona play-off. Meski begitu, Spalletti mengaku progres tim bergerak lambat karena ritme pertandingan yang padat.
“Kami kembali dari Naples jam lima pagi, lalu sehari setelahnya sudah masuk retret untuk persiapan pertandingan berikutnya. Hampir tidak ada waktu untuk latihan berkualitas”, terang Spalletti.
Ia juga membela keputusannya merotasi pemain muda seperti Kenan Yıldız, Miretti, dan Vasilije Adžić. “Mereka butuh menit bermain, tetapi mereka juga masih perlu banyak penyesuaian. Adžić punya kualitas, tapi masuk 20 menit di laga intens seperti ini bukan hal mudah”.
Fokus Spalletti pada Detail dan Konsistensi
Spalletti menjelaskan bahwa ia kini menuntut kedisiplinan lebih tinggi, terutama dalam transisi dan struktur bertahan. Menurutnya, perbaikan harus dilakukan secara berurutan agar tidak membebani pemain. “Kami mau permainan yang terukur. Tidak bisa semua diperbaiki dalam dua minggu. Detail kecil ini akan menentukan identitas kami”.
Harapan untuk Paruh Musim Berikutnya
Meski progres berjalan lambat, Spalletti tetap optimistis Juventus akan tampil lebih stabil setelah pergantian tahun ketika jadwal mulai longgar. “Setelah semua penyesuaian berjalan optimal, saya yakin permainan kami akan sangat berbeda”, bebernya.
Ia menegaskan komitmennya menjadikan formasi 4-2-3-1 sebagai identitas baru tim. “Saya ingin mengembangkan 4-2-3-1 ini. Kami harus lebih berani bermain dari belakang, dan untuk itu kami butuh komposisi bek tengah yang komplet. Jika semua berjalan sesuai rencana, struktur ini akan menjadi wajah Juventus yang baru”. (MR-02)






