The Fed Bakal Pangkas Suku Bunga? Data Ketenagakerjaan AS Bocor Sinyal Lemah

GEDUNG Federal Reserve AS atau The Fed di Washington, D.C., menjadi sorotan pasar setelah kebijakan tarif baru diumumkan Presiden Trump, Jumat (1/8/2025). (Sumber Foto: Official Federal Reserve Photo/Britt Leckman)

Mataredaksi.com, WASHINGTON – Pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat anjlok tajam pada Juli 2025. Kondisi ini langsung mengguncang pasar keuangan global.

Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dirilis Jumat (1/8/2025) menunjukkan, jumlah pekerjaan baru hanya mencapai 73.000. Angka itu jauh di bawah proyeksi analis yang memperkirakan sekitar 200.000 lapangan kerja tercipta.

Situasi ini menjadi yang terburuk sejak masa puncak pandemi. Pada bulan-bulan sebelumnya, pertumbuhan tenaga kerja masih stabil di atas 150.000. Menurut Julian Hartman, analis ekonomi dari Capital Edge, dunia usaha kini menghadapi kenyataan baru.

“Kebijakan ekonomi Amerika Serikat di bawah Trump kembali menciptakan turbulensi yang sulit diprediksi”, ujarnya.

Tarif Baru Trump Picu Kekhawatiran

Penurunan tajam di sektor ketenagakerjaan datang hanya beberapa hari sebelum tarif baru diberlakukan. Presiden Donald Trump mempercepat jadwal penerapan tarif terhadap Tiongkok dan Meksiko menjadi 7 Agustus 2025.

Langkah ini memicu kekhawatiran di sektor perdagangan dan manufaktur. Banyak pihak menilai, tekanan terhadap inflasi global bisa makin parah jika kebijakan proteksionisme berlanjut.

The Fed Berada di Persimpangan

Melemahnya pasar tenaga kerja membuka peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Opsi ini dinilai penting untuk menahan perlambatan ekonomi lebih lanjut.

Namun, ancaman inflasi akibat tarif baru membuat situasi jadi kompleks. The Fed harus berhati-hati agar tidak menambah tekanan pada konsumsi dan daya beli.

Ancaman Resesi Muncul di Cakrawala

Sejumlah ekonom mulai memperingatkan potensi resesi teknikal. Bila tren pelemahan berlangsung selama dua kuartal berturut-turut dan ketegangan dagang terus meningkat, ekonomi AS bisa jatuh lebih dalam.

Trump tetap bersikukuh bahwa kebijakan tarif akan memperkuat posisi Amerika. Namun, banyak pelaku pasar menilai strategi ini menghidupkan kembali perdebatan lama tentang proteksionisme versus pasar terbuka.

Saat ketidakpastian membayangi arah ekonomi global, banyak negara mitra dagang memilih menahan ekspansi dan investasi. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *