Mataredaksi.com, BOGOR – Manchester United datang ke Etihad dengan tekad membuktikan kemenangan dramatis 3-2 atas Burnley sebelum jeda internasional bukan sekadar fatamorgana. Namun, alih-alih membangun momentum, mereka justru tenggelam dalam dominasi rival sekota. Manchester City tanpa ampun menutup laga dengan skor 3-0.
Deja vu kembali menyelimuti Setan Merah, sementara pertanyaan tentang kapabilitas Rúben Amorim semakin menguat. Dari kekalahan itu, ada tiga catatan besar yang muncul:
1. Kekacauan Lini Tengah
Poros Bruno Fernandes–Manuel Ugarte terbukti jadi titik rapuh. Amorim mengambil risiko besar dengan kombinasi itu, dan hasilnya bumerang. Fernandes, yang kerap dilema antara kreator dan pekerja, gagal menutup pergerakan Phil Foden. Dari kelengahannya, gol pembuka lahir.
City dengan Foden, Tijjani Reijnders, dan Jérémy Doku rutin menemukan ruang di antara lini United. Rodrigo Hernández dan Reijnders memang sempat ceroboh, tapi dominasi tetap berpihak pada tuan rumah. Bahkan Leny Yoro yang coba maju menutup Doku justru menciptakan celah untuk Erling Haaland.
Ketidakmampuan United mendatangkan gelandang baru di musim panas semakin terasa mahal dari pekan ke pekan.
2. Šeško Kosong di Awal Liga Primer
Cedera Matheus Cunha dan Mason Mount membuka kesempatan emas bagi Benjamin Šeško. Sayangnya, di panggung besar Derby Manchester, striker Slovenia itu gagal meninggalkan jejak berarti.
Di menit-menit awal, ia sempat mencari ruang di balik garis tinggi pertahanan City. Namun, kontribusinya cepat meredup. Šeško terlihat masih mentah, kurang konsisten, dan sering terisolasi. Untuk pemain dengan banderol tinggi, ekspektasi jelas lebih besar.
Kesabaran memang dibutuhkan untuk pemain berusia 22 tahun ini. Tetapi tanda-tanda awal menunjukkan ia bisa saja terjebak dalam pola kegagalan striker muda United sebelumnya, yang cepat habis digerus tekanan media dan tuntutan publik.
3. Kami Telah Menemukan Foden
Atmosfer derby di Etihad makin emosional dengan kabar wafatnya Ricky Hatton, legenda tinju sekaligus penggemar setia City. Seolah terinspirasi, Phil Foden tampil sebagai motor kebangkitan The Citizens.
Pemain Terbaik PFA musim 2022/23 itu diragukan setelah musim 2024/25 yang mengecewakan. Namun absennya Omar Marmoush memberi jalan baginya untuk tampil starter perdana musim ini. Foden menjawab kesempatan itu dengan sundulan akurat hasil umpan silang Jérémy Doku, memanfaatkan celah di lini tengah United.
Di babak kedua, ia menjadi arsitek gol pertama Erling Håland. Haaland akhirnya dinobatkan sebagai Man of the Match, tetapi penampilan Foden justru memberi sinyal paling melegakan bagi Pep Guardiola. (MR-03)






