Literasi Keuangan Pelajar Masih Rendah, OJK Dorong Edukasi Sejak Dini

Peluncuran MOJANG - PT Indonesia Fintopia Technology (EasyCash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia meluncurkan MOJANG (Modul Bijak Keuangan) sebagai panduan literasi keuangan praktis bagi anak muda. (Sumber foto: Dok. Easycash/Mataredaksi)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Lembaga negara independen, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Data terbaru menunjukkan, pemahaman pelajar usia 15–17 tahun terhadap pengelolaan keuangan belum menyamai rata-rata nasional.

Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliani, mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan pelajar pada kelompok usia tersebut baru mencapai 51,68 persen.

Angka ini terpaut cukup jauh dari indeks literasi keuangan nasional yang telah berada di level 66,46 persen. “Jika dirinci berdasarkan usia, literasi keuangan pelajar 15–17 tahun masih berada di bawah rata-rata nasional”, ujar Naomi, saat peluncuran Modul Bijak Keuangan.

https://rm.id/files/konten/berita/ojk-berharap-mojang-bisa-tingkatkan-literasi-keuangan-digital-milenal-dan-gen-z_300367.jpeg

Tantangan Ekonomi Generasi Muda

Naomi menjelaskan, rendahnya literasi keuangan menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi ekonomi yang semakin kompleks. Generasi muda dihadapkan pada kenaikan biaya hidup, perubahan pola kerja, serta ketidakpastian pendapatan.

Ia merujuk pada data ketenagakerjaan yang menunjukkan sekitar 59,4 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal. Kondisi tersebut membuat sebagian besar tenaga kerja memiliki penghasilan yang tidak stabil dan minim perlindungan sosial. “Situasi ini menunjukkan banyak masyarakat berada dalam kondisi rentan”, kata Naomi.

Oleh karena itu, ia menilai edukasi keuangan sejak dini menjadi langkah krusial untuk membekali generasi muda menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Pergeseran Fokus OJK

Menurut Naomi, pelajar dan mahasiswa perlu memahami pengelolaan keuangan secara bijak, termasuk hak dan kewajiban sebagai konsumen jasa keuangan. Pemahaman ini dinilai penting agar generasi muda mampu mengambil keputusan finansial yang tepat.

https://image.fortuneidn.com/post/20260210/upload_d3a6977812c033e3d64dbd5ee8af84cf_b8815d89-6370-4b88-9dc7-e38ed3b62e38.jpeg

Sejalan dengan itu, OJK kini menggeser pendekatan edukasi keuangan. Jika sebelumnya fokus pada peningkatan literasi dan inklusi, kini perhatian diarahkan pada kesejahteraan keuangan atau financial well-being.

“Paradigma kami sudah bergerak pada bagaimana membangun kesadaran akan kesejahteraan keuangan”, jelasnya, Selasa (10/2/2026).

Melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan), OJK terus memperluas jangkauan edukasi. Sepanjang 2025, OJK mencatat telah menyelenggarakan 11.931 kegiatan edukasi yang melibatkan sekitar 1,8 juta pelajar di berbagai daerah.

Peran Fintech dalam Edukasi Keuangan

Selain regulator, pelaku industri keuangan digital juga ikut mendorong peningkatan literasi keuangan. Salah satunya, perusahaan fintech lending EasyCash yang aktif menggelar edukasi keuangan di berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Head of Corporate Affairs EasyCash, Wildan Kusuma, menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir perusahaan secara konsisten menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan di sejumlah wilayah. Program tersebut menjangkau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. “Kami berupaya menjangkau masyarakat di luar Jawa melalui berbagai kegiatan edukasi keuangan”, ujar Wildan.

https://mediaindonesia.gumlet.io/news/2026/02/10/1770719505_164d33d38a72415ccdd4.jpeg?w=376&dpr=2.6

Namun demikian, Wildan menilai pemerataan informasi masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, masyarakat di berbagai daerah kerap menanyakan perbedaan antara layanan keuangan berizin dan yang ilegal. “Pertanyaan mendasar itu hampir selalu muncul di setiap kota yang kami datangi”, katanya.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, EasyCash tidak hanya mengandalkan kegiatan tatap muka dan daring. Perusahaan juga memanfaatkan media digital, seperti media sosial, video edukasi, dan podcast.

Melalui pendekatan tersebut, EasyCash ingin mendorong masyarakat memahami pentingnya menggunakan produk keuangan yang aman dan berizin. Di sisi lain, perusahaan menekankan perlunya edukasi sebelum masyarakat menggunakan layanan pinjaman digital.

Meski tantangan literasi masih ada, Wildan menyebut EasyCash mencatatkan Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB) 90 sebesar 100 persen sepanjang 2025. Ia menilai capaian ini lahir dari penerapan teknologi kecerdasan buatan dan analisis big data dalam proses mitigasi risiko. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *