IHSG Cetak Rekor Tertinggi 8.933, Sentimen Global dan Insentif Dorong Pasar

MENCATAT REKOR TERTINGGI - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan, Selasa (6/1/2026) mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 8.933,61. Hal ini seiring dominasi aksi beli investor dan sentimen positif global. (Sumber foto: Dok. IHSG-BEI)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026). Pada akhir sesi, IHSG menguat 74,41 poin atau 0,84 persen dan berhenti di level 8.933,61. Penguatan tersebut muncul seiring sentimen geopolitik global dan dukungan insentif fiskal pemerintah.

Sejalan dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak di zona hijau. Indeks tersebut naik 0,61 persen ke posisi 865,05. Sejak awal perdagangan, aksi beli investor terlihat lebih dominan dibandingkan tekanan jual.

Sentimen Global Menguatkan Pasar

Di pasar global, harga logam mulia kembali meningkat. Emas dan perak menjadi incaran investor sebagai aset lindung nilai. Kondisi ini muncul setelah ketegangan geopolitik meningkat akibat serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.

Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, reli IHSG hari ini tidak berdiri sendiri. Ia menilai pasar merespons kombinasi faktor eksternal dan domestik secara bersamaan.

“Selain penguatan harga komoditas logam, sejumlah insentif pemerintah juga memberi sentimen positif bagi pergerakan indeks,” ujar Ratna, dilansir Mataredaksi, Selasa (6/1/2026).

Kebijakan Fiskal Dorong Optimisme

Dari dalam negeri, pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat. Salah satu langkahnya terlihat melalui PMK Nomor 105 Tahun 2025. Aturan tersebut membebaskan Pajak Penghasilan Pasal 21 sepanjang 2026 bagi pekerja bergaji di bawah Rp10 juta per bulan di sektor padat karya.

Selain kebijakan pajak, pemerintah juga mendorong sektor properti. Melalui PMK Nomor 90 Tahun 2025, pemerintah menanggung PPN 100 persen untuk rumah dengan harga hingga Rp2 miliar. Alhasil, kepercayaan investor terhadap pasar domestik tetap terjaga.

Sektor Barang Baku Pimpin Penguatan

Di lantai bursa, sektor barang baku tampil paling menonjol. Sektor ini mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,81 persen. Sementara itu, sektor energi dan teknologi ikut bergerak naik mengikuti sentimen positif pasar.

Pada saat yang sama, Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi mencapai Rp34,16 triliun. Volume perdagangan menyentuh 67,93 miliar saham. Secara keseluruhan, 428 saham menguat dan 256 saham melemah.

Bursa Asia Ikut Menghijau

Di kawasan regional, bursa Asia bergerak searah dengan pasar domestik. Indeks Nikkei Jepang dan Shanghai Composite Tiongkok sama-sama menguat lebih dari 1,3 persen. Sejumlah saham seperti BIPI, GSMF, INPC, PADI, dan NICL turut menopang penguatan IHSG. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *