Rupiah Melemah ke Rp16.758 per Dolar AS, Sikap Risk-Off Masih Membayangi Pasar

ILUSTRASI NILAI TUKAR – Ilustrasi uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 16.758 per dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026), seiring penguatan dolar AS dan sikap risk-off pelaku pasar global. (Sumber foto: ISTIMEWA)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Rupiah melemah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026). Mata uang Garuda turun 18 poin atau 0,11 persen dan berhenti di level Rp 16.758 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 16.740 per dolar AS.

Pergerakan tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar. Investor global memilih mengurangi risiko di tengah penguatan dolar AS.

Sikap Risk-Off Masih Menguasai Pasar

Pelaku pasar global masih mengadopsi sikap risk-off. Kondisi ini membuat aset berisiko kehilangan daya tarik, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama tekanan. Investor memilih menempatkan dana pada aset yang dianggap lebih aman.

Penguatan Dolar AS Menekan Nilai Tukar

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menegaskan sentimen global masih membebani rupiah. Menurut dia, pasar belum keluar dari fase defensif.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen global yang masih didominasi penguatan dolar AS dan sikap risk-off pelaku pasar”, kata Taufan, dilansir Mataredaksi, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tetap tinggi. Kondisi tersebut mendorong arus modal bertahan di aset berbasis dolar.

Imbal Hasil US Treasury Tetap Menarik

Imbal hasil US Treasury yang tinggi memperkuat posisi dolar AS. Investor global masih melihat instrumen tersebut sebagai pilihan menarik. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang emerging market terus berlanjut. Rupiah pun belum menemukan ruang penguatan yang solid.

Data PMI AS Belum Menggeser Ekspektasi

Aktivitas manufaktur Amerika Serikat masih berada di zona kontraksi. PMI Manufaktur ISM Desember 2025 tercatat di level 47,9 persen. Angka tersebut turun 0,3 poin dari November yang berada di level 48,2 persen.

Capaian ini juga berada di bawah proyeksi pasar sebesar 48,3 persen. Meski begitu, pasar belum mengubah ekspektasi kebijakan moneter The Federal Reserve. Pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Permintaan Valas Domestik Masih Tinggi

Dari dalam negeri, tekanan rupiah juga datang dari kebutuhan valuta asing. Permintaan valas untuk impor dan kewajiban pembayaran korporasi masih tinggi. Di sisi lain, pelaku pasar domestik memilih bersikap hati-hati. Kondisi tersebut membatasi pergerakan rupiah meski tekanan intraday sempat mereda.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif

Ke depan, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Taufan memproyeksikan nilai tukar berada di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.780 per dolar AS.

Sejalan dengan pasar spot, Bank Indonesia mencatat pelemahan JISDOR. Kurs JISDOR berada di level Rp 16.762 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.748 per dollar AS. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *