Vanoli Akui Fiorentina Masih Rapuh Saat Dibantai Roma, Awal Musim Bencana

Berpikir Keras - Gestur tubuh Paolo Vanoli tampak serius saat berdiri di pinggir lapangan ketika ACF Fiorentina menghadapi AS Roma pada pekan ke-35 Serie A Italia 2025/2026, di Stadio Olimpico, Selasa (5/5/2026) dini hari WIB. I Viola harus mengakui keunggulan I Lupi dengan skor telak 0-4. (Sumber foto: @laviola_it/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Paolo Vanoli mengakui ACF Fiorentina masih menunjukkan sisi rapuh setelah kalah telak 0-4 dari AS Roma pada pekan ke-35 Serie A 2025/2026, Selasa (5/5/2026) dini hari WIB, di Stadio Olimpico, Roma.

Meski menelan kekalahan menyakitkan, Vanoli meminta semua pihak melihat perjalanan tim secara utuh. Ia menegaskan bahwa kondisi Fiorentina saat pertama kali ia datang jauh dari kata ideal. Bahkan, ia menyebutnya sebagai situasi yang nyaris tidak bisa diselamatkan.

Fiorentina sebenarnya sempat mendapat kabar positif sebelum laga dimulai. Kekalahan Cremonese dari Lazio membuat posisi mereka relatif aman dari ancaman degradasi. Namun, kondisi itu tidak mampu mengangkat mental bertanding para pemain di lapangan.

“Mengetahui hasil lainnya seharusnya tidak menjadi alasan. Kami tetap harus tampil fokus sejak awal”, ujar Vanoli kepada Sky Sport Italia dilansir Mataredaksi.

Ia menilai timnya kehilangan arah setelah gol pertama Roma. Situasi tersebut membuat organisasi permainan runtuh dan memberi ruang bagi lawan untuk mengontrol jalannya pertandingan.

Empat Gol Cepat Hancurkan Ritme Pertandingan

Fiorentina langsung berada di bawah tekanan sejak menit awal. Mereka tertinggal dua gol hanya dalam 17 menit melalui sundulan Gianluca Mancini dan penyelesaian Wesley França.

Tekanan terus berlanjut ketika Mario Hermoso mencetak gol ketiga. Tidak lama kemudian, Niccolò Pisili menutup pesta gol Roma yang memastikan kemenangan telak.

Vanoli mengakui timnya sempat kehilangan kepercayaan diri. Ia melihat para pemain gagal merespons tekanan dengan baik, terutama setelah tertinggal cepat.

“Kami sudah melalui banyak pertandingan sulit untuk sampai di posisi ini. Karena itu, kami harus tetap menegakkan kepala”, katanya.

Kesempatan Pemain Muda Mulai Terbuka

Saat tertinggal jauh, pelatih Paolo Vanoli mencoba memberi warna baru dengan memasukkan striker muda Riccardo Braschi. Keputusan itu hampir langsung membuahkan hasil karena sang pemain menciptakan peluang berbahaya.

Bola tembakannya memang hanya membentur tiang. Namun, momen itu tetap memberi sinyal positif bagi masa depan ACF Fiorentina.

Selain itu, absennya Moise Kean dan Roberto Piccoli akibat cedera membuka ruang lebih luas bagi pemain muda untuk tampil.

“Saya ingin dia mencetak gol. Namun, yang terpenting dia berani mengambil peluang. Kami percaya pada perkembangan pemain muda”, ujar Vanoli.

Ia menegaskan bahwa Fiorentina sedang membangun fondasi jangka panjang. Karena itu, proses pembinaan pemain muda menjadi bagian penting dalam strategi tim.

Guðmundsson Beradaptasi di Tengah Situasi Darurat

Vanoli juga membela Albert Guðmundsson yang belum menunjukkan performa terbaik. Ia menilai kondisi tim memaksa sang pemain beradaptasi di berbagai posisi.

“Dia bermain di beberapa posisi berbeda dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini memang tidak ideal, tetapi dia tetap berusaha membantu tim”, jelasnya.

Menurut Vanoli, fleksibilitas pemain menjadi kebutuhan utama dalam situasi darurat. Meski begitu, ia yakin performa Guðmundsson akan meningkat jika mendapat peran yang lebih konsisten.

Masa Depan Vanoli Masih Menunggu Evaluasi

Di sisi lain, masa depan Vanoli bersama Fiorentina belum pasti. Direktur klub, Fabio Paratici, berencana melakukan evaluasi setelah tim benar-benar aman dari degradasi.

Vanoli memahami situasi tersebut. Ia memilih fokus menyelesaikan musim tanpa ingin berspekulasi terlalu jauh. “Ketika saya datang, situasinya sangat sulit. Kami hanya memiliki empat poin dan belum meraih kemenangan dalam 11 pertandingan pertama”, ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa bertahan di Serie A merupakan pencapaian besar. Bahkan, ia menyebut target tersebut setara dengan gelar juara bagi timnya. “Bagi kami, bertahan di liga ini adalah Scudetto. Sekarang kami hanya butuh satu langkah lagi untuk memastikan semuanya”, kata Vanoli.

Ia pun menutup dengan sikap terbuka terkait masa depannya di klub. “Saya ingin melanjutkan proses ini. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan klub”, tutupnya. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *