Mataredaksi.com, JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan sistem keuangan nasional tetap stabil pada triwulan III 2025. Kondisi ini mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski risiko global masih membayangi.
KSSK, yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan Ketua LPS, menekankan koordinasi kebijakan yang ketat antar lembaga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, “Stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi”.
KOMITE Stabilitas Sistem Keuangan menyampaikan bahwa stabilitas sistem keuangan pada kuartal III-2025 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (Sumber foto: Istimewa)
Meski ekonomi global menghadapi tantangan, seperti tarif impor AS yang menambah ketidakpastian, prospek perbaikan mulai terlihat. Aktivitas ekonomi di AS yang melambat membantu menahan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve. IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 3,2 persen, naik dari perkiraan sebelumnya 3 persen.
Di dalam negeri, pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tren positif. Indonesia membukukan yield seri 10 tahun turun menjadi 6,07 persen pada akhir Oktober 2025. Penjualan ritel juga meningkat, tumbuh 5,8 persen year-on-year pada September, dibanding 1,3 persen pada Juni. PMI Manufaktur naik menjadi 51,2 pada Oktober, menunjukkan sektor industri tetap ekspansif.
Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan triwulan III 2025 sebesar US$14 miliar. Angka ini naik signifikan dari triwulan sebelumnya. Likuiditas perekonomian meningkat karena pemerintah menempatkan Rp 200 triliun di Himbara. Uang beredar M2 tumbuh 8 persen year-on-year pada September.
Ke depan, pemerintah akan mendorong investasi swasta melalui peran pengungkit. Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) mendukung terciptanya iklim investasi yang kompetitif. Dengan langkah ini, pertumbuhan ekonomi triwulan keempat diperkirakan akan berada di atas 5 persen year-on-year.
Kondisi ini menunjukkan ekonomi Indonesia tahan banting. Pasar modal, likuiditas, dan aktivitas riil tetap positif. Kebijakan koordinatif antar lembaga memperkuat kepercayaan pelaku ekonomi nasional dan internasional. (MR-01)






