Mataredaksi.com, BOGOR – Tim Atalanta Bergamasca Calcio meluapkan kekecewaan setelah gagal melaju ke final Coppa Italia 2025/2026 usai kalah adu penalti dari Società Sportiva Lazio.
Direktur klub Luca Percassi menilai keputusan wasit merugikan Atalanta dalam laga semifinal, di Stadion New Balance Arena Bergamo, Kamis (23/4/2026) dini hari WIB.
Atalanta bermain imbang 1-1 pada waktu normal sebelum kalah 1-2 dalam adu penalti. Kekalahan itu terasa menyakitkan karena Video Assistant Referee membatalkan dua peluang penting Atalanta, termasuk gol yang bisa membawa mereka ke final.
Kontroversi terbesar muncul saat Éderson mencetak gol untuk Atalanta. Dalam proses serangan itu, Mario Gila lebih dulu mengenai bola dengan tangannya, lalu Nikola Krstović merebut bola dari jangkauan kiper Edoardo Motta sebelum Éderson mencetak gol.
Setelah meninjau tayangan ulang, wasit menilai Krstović melanggar Motta dan langsung membatalkan gol tersebut.
Keputusan itu memicu kemarahan kubu Atalanta. Percassi menilai keputusan tersebut mengubah jalannya pertandingan dan merusak peluang timnya untuk lolos ke final.
“Ketika tim bermain sangat baik, lalu wasit membatalkan gol seperti itu, tentu kami sangat kecewa. Lebih dari satu keputusan merugikan kami malam ini”, ujar Percassi.
Menurut Percassi, VAR seharusnya membantu wasit mengambil keputusan akurat. Namun, menurut dia, teknologi itu justru memunculkan keputusan yang merugikan timnya.
“Kesalahan seperti ini tidak bisa diterima ketika taruhannya begitu besar. Kami punya semua alat untuk melihat insiden dengan jelas, tetapi keputusan penting tetap salah”, katanya.
Percassi juga mengingat kekalahan Atalanta dari Lazio pada final Coppa Italia 2019. Ia menilai laga kali ini kembali meninggalkan rasa pahit karena keputusan penting lagi-lagi tidak berpihak kepada Atalanta.
“Ini bukan pertama kalinya terjadi saat melawan Lazio. Kami kembali menerima keputusan yang sangat merugikan di pertandingan penting”, ujarnya.
Atalanta juga mempertanyakan keputusan wasit saat Lazio meminta penalti karena bola mengenai tangan Giorgio Scalvini. Percassi menilai kedua insiden itu mirip, tetapi wasit memberi keputusan berbeda.
“Sangat sulit memahami mengapa dua kejadian yang mirip menghasilkan keputusan berbeda. Kami tentu sangat kecewa”, tegasnya.
Meski memprotes kepemimpinan wasit, Atalanta tetap harus mengakui penampilan gemilang Motta. Kiper muda Lazio itu menggagalkan empat penalti beruntun dan membawa Inter Milan menjadi lawan Lazio di final.
Bagi Atalanta, kegagalan ini meninggalkan luka besar. Klub asal Bergamo itu merasa keputusan wasit mengubah peluang mereka, dan kontroversi laga ini dipastikan masih akan menjadi pembahasan panjang di Italia. (MR-01)






