Hujan Ekstrem Picu Longsor di TPU Depok, 16 Makam Terdampak

Longsor TPU - Petugas Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muara Benda, di Kampung Mampangan, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat, saat melakukan pencarian jasad akibat longsor. Sebanyak 16 makam terdampak dan terbawa material tanah hingga ke area dekat aliran Kali Ciliwung, Selasa (24/3/2026). (Sumber foto: Istimewa)

Mataredaksi.com, DEPOK – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kota Depok, Jawa Barat, memicu pergerakan tanah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muara Benda, Kampung Mampangan, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Selasa (24/3/2026).

Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 16 makam terdampak dan terbawa longsoran hingga mendekati aliran Kali Ciliwung. Material tanah yang tergerus membuat sejumlah liang makam ikut rusak dan bergeser dari posisi semula.

Sejumlah warga dan pengunjung TPU sempat kaget melihat kondisi tanah yang tiba-tiba amblas. Beberapa di antara mereka turut membantu mengamankan area sebelum petugas tiba di lokasi.

Jenazah Dievakuasi Petugas

Petugas gabungan dari unsur pemerintah daerah, relawan, dan aparat terkait langsung melakukan penanganan di lapangan. Mereka mengevakuasi jenazah, baik yang baru dimakamkan maupun yang sudah lama, ke lokasi yang lebih aman dan tidak terdampak pergerakan tanah.

Beberapa jenazah baru sempat terlihat di permukaan akibat tanah yang runtuh dan terbawa longsor menuju bantaran sungai.

Kepala Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muara Benda, Muhayar, menyampaikan bahwa pihaknya segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Depok untuk mempercepat proses relokasi makam terdampak.

Prioritas Evakuasi Jenazah

Ia menegaskan bahwa petugas memprioritaskan seluruh jenazah yang terdampak untuk segera ditangani. Langkah ini dilakukan guna mencegah risiko lanjutan, termasuk potensi jenazah terbawa aliran air sungai.

Faktor Tanah dan Arus Sungai

Muhayar menjelaskan bahwa kenaikan debit air Kali Ciliwung mengikis tebing tanah di area pemakaman. Kondisi itu memicu pergerakan tanah karena struktur tanah di lokasi tergolong lunak.

Ia menyebut curah hujan tinggi dalam durasi panjang mempercepat pergerakan tanah. Situasi tersebut membuat area TPU memerlukan penguatan struktur agar tidak kembali terdampak longsor. Ia juga mendorong pembangunan turap atau dinding penahan tanah untuk menahan erosi dari aliran sungai.

Peringatan Cuaca dari BMKG

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok, Deni Romulo Hutauruk, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Ia mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang masih mencatat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Depok dalam beberapa waktu ke depan.

Deni meminta warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor untuk bersiaga, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Langkah Antisipasi Pemerintah

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menempatkan personel di sejumlah titik rawan untuk memantau kondisi lingkungan dan pergerakan tanah di sekitar bantaran sungai. Petugas juga memantau debit air Kali Ciliwung yang berpotensi meningkat saat hujan turun kembali.

Selain itu, pemerintah menyiapkan langkah penanganan jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Upaya tersebut meliputi evaluasi struktur tanah serta rencana penguatan infrastruktur penahan di sekitar area TPU. (MR-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *