55% Lansia Masih Bekerja, Pengamat Soroti Kebutuhan Hidup yang Belum Tercukupi

Kontribusi Ekonomi Tetap Terjaga

ILUSTRASI- Warga lanjut usia (lansia) mengikuti pelatihan penggunaan teknologi komputer dan internet sehat, di Surabaya, Jawa Timur. Aktivitas ini sehat bagi para lansia. (Sumber foto: Istimewa)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Sekitar 55,21% dari 33,43 juta lansia di Indonesia masih masuk ke angkatan kerja. Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economic (CoRe), Mohammad Faisal, menilai fakta ini menunjukkan bahwa banyak lansia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Mereka yang bekerja, terutama di sektor informal, mungkin belum bisa mencukupi kebutuhan hidupnya jika berhenti. Beberapa bekerja untuk diri sendiri, keluarga, atau anak-anak”, ujar Faisal, Rabu (27/8/2025).

Pensiun Bukan Akhir Aktivitas
Faisal menambahkan, lansia yang sudah pensiun tidak selalu berhenti bekerja. Beberapa tetap membuka usaha atau menjadi konsultan jasa tertentu.

“Kalau lansia berhenti bekerja tanpa penghasilan atau tanpa tabungan memadai, kehidupannya bisa kekurangan. Ini menunjukkan, income semasa muda belum cukup untuk menabung bagi kesejahteraan hari tua. Selain itu, jaminan hari tua dari BPJS belum menjamin kehidupan layak”, terang Faisal.

Kontribusi Ekonomi Tetap Terjaga
Di sisi lain, Faisal menilai keaktifan lansia di dunia kerja tetap memberi dampak positif. “Meskipun usia biologis sudah melewati masa pensiun, lansia yang bekerja masih produktif dan tetap berkontribusi terhadap ekonomi nasional maupun keluarganya”, katanya.

Harapan Terhadap Pemerintah
Faisal meminta pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat, terutama terkait pekerjaan dan pendapatan.

“Pendapatan dan perlindungan hari tua masih relatif belum memenuhi ekspektasi, sehingga masyarakat usia lanjut tetap harus bekerja untuk menjamin kehidupannya”, pungkas Faisal. (MR-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *