Mataredaksi.com, BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memastikan hingga 11 Mei 2026 belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Kota Bogor.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul munculnya kasus hantavirus pada Kapal Ekspedisi MV Hondius yang sempat menghebohkan dunia internasional.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari virus genus Orthohantavirus dan ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Virus tersebut dapat menyebabkan dua bentuk penyakit utama pada manusia, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
“Penularan pada manusia umumnya terjadi akibat paparan urin, tinja, maupun air liur tikus yang terinfeksi. Virus dapat masuk melalui saluran pernapasan, kontak dengan benda tercemar, maupun gigitan tikus”, kata Erna dalam keterangan resminya dilansir, Kamis (28/5/2026).
Ia mengatakan, penularan antarmanusia tergolong sangat jarang terjadi. Sebagian besar kasus muncul akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi rodensia, terutama pada wilayah dengan sanitasi buruk atau infestasi tikus yang tinggi.
Menurutnya, masa inkubasi hantavirus berkisar antara satu hingga delapan minggu setelah paparan virus. Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, muntah, hingga nyeri perut.
Pada kondisi berat, penyakit dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, gangguan ginjal, perdarahan, hingga kegagalan organ apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.
Kasus Hantavirus Jadi Perhatian
Erna menuturkan, tingkat keparahan penyakit sangat bergantung pada jenis virus yang menginfeksi pasien. Pada beberapa kasus tertentu, angka kematian akibat hantavirus dapat cukup tinggi.
Hingga kini, belum tersedia pengobatan antivirus spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk menangani penyakit tersebut. Karena itu, penanganan medis lebih difokuskan pada terapi suportif, pemantauan kondisi pasien, dan penanganan komplikasi yang muncul.
Kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular penyakit ini di antaranya petugas kebersihan, pekerja gudang, awak kapal, petani, petugas laboratorium, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi kurang baik dan populasi tikus tinggi.
Selain itu, orang yang sering beraktivitas di area tertutup yang jarang dibersihkan, seperti gudang, ruang penyimpanan, dan bangunan kosong, juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan virus dari kotoran maupun urin tikus.
Dinkes Kota Bogor juga menyoroti kasus hantavirus yang ditemukan pada penumpang Kapal Ekspedisi MV Hondius pada 6 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang diterima, terdapat delapan orang terinfeksi dengan tiga kasus kematian.
Hasil investigasi menyebutkan strain virus yang terlibat merupakan Andes virus yang umum ditemukan di Amerika Selatan dan diketahui sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular antarmanusia.
Kasus tersebut menjadi perhatian dunia karena penularan antarmanusia pada hantavirus selama ini sangat jarang ditemukan. Karena itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem deteksi dini.
Di Indonesia sendiri, keberadaan Orthohantavirus pada manusia memang masih jarang dilaporkan. Namun, virus tersebut telah banyak ditemukan pada reservoir atau hewan pembawa.
Berdasarkan data surveilans tahun 2025, tercatat 10 kasus konfirmasi virus Hanta di lima provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta. Khusus di Jawa Barat ditemukan dua kasus konfirmasi, masing-masing di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Ciamis.
Dinkes Kota Bogor Perkuat Kewaspadaan
Meski jumlahnya relatif sedikit, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah karena penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada kasus tertentu.
Sebagai langkah kewaspadaan dini, Dinkes Kota Bogor terus melakukan pemantauan situasi penyakit melalui sumber resmi pemerintah maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain itu, Dinkes juga melakukan upaya pencegahan, deteksi, dan penanggulangan sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta Tahun 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.
Pemantauan terhadap kasus suspek leptospirosis, dengue, tifoid, hingga rickettsiosis juga diperketat karena memiliki gejala yang mirip dengan hantavirus. Pengawasan dilakukan melalui sistem surveilans kewaspadaan dini dan respons di Kota Bogor.
Dinkes Kota Bogor juga mempersiapkan sumber daya penanggulangan, mulai dari penyelidikan epidemiologi, manajemen sampel, hingga koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus sebagai langkah utama pencegahan penyakit.
Masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan secara rutin, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah maupun gudang, serta menyimpan makanan dan minuman di tempat tertutup.
Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, warga diimbau menggunakan masker dan sarung tangan. Pembersihan juga tidak disarankan dilakukan dengan cara menyapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.
Kotoran tikus sebaiknya terlebih dahulu disemprot menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan. Setelah itu, masyarakat diminta mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Masyarakat Diimbau Tidak Panik
Di sisi lain, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. “Masyarakat diimbau tidak panik dan tidak menyebarkan informasi hoaks. Gunakan sumber resmi pemerintah sebagai rujukan informasi”, ujar Erna.
Apabila mengalami demam, gangguan pernapasan, atau keluhan lain setelah kontak dengan lingkungan yang terdapat tikus, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dinkes Kota Bogor juga meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya kasus dengan gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.
Langkah deteksi dini dinilai penting untuk mempercepat penanganan medis sekaligus mencegah risiko penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat. (MR-01/*)






