Hallgrímsson Hormati Aksi Protes Suporter Saat Republik Irlandia Bungkam Qatar

Singkirkan Bola - Pelatih Timnas Republik Irlandia, Heimir Hallgrímsson, menendang bola tenis bertuliskan “Stop the Game” yang dilempar suporter ke lapangan saat laga persahabatan internasional melawan Qatar, di Aviva Stadium, Jumat (29/5/2026) dini hari WIB. Aksi protes tersebut dilakukan pendukung tuan rumah sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pertandingan UEFA Nations League antara The Boys in Green dan Israel pada Oktober mendatang. (Sumber foto: @HQpcrt/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Timnas Republik Irlandia, Heimir Hallgrímsson, mengaku tidak terlalu terganggu dengan aksi protes suporter yang terjadi saat timnya mengalahkan Qatar 1-0 dalam laga persahabatan internasional, di Aviva Stadium, Jumat (29/5/2026) dini hari WIB.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pertandingan Israel melawan Republik Irlandia pada ajang UEFA Nations League (Liga Bangsa-Bangsa UEFA) yang dijadwalkan berlangsung 4 Oktober mendatang.

Bola Tenis Bertebaran di Tengah Pertandingan

Sepanjang babak pertama, pertandingan beberapa kali terhenti akibat lemparan bola tenis dari tribun penonton ke dalam lapangan. Bola-bola itu bertuliskan “Stop the Game” sebagai simbol protes terhadap keputusan Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) yang tetap melanjutkan agenda pertandingan kontra Israel.

Insiden pertama terjadi pada menit ke-10, kemudian kembali terulang pada menit ke-20 dan menit ke-30. Aksi tersebut berasal dari area tribun atas sisi barat stadion.

Meski pertandingan sempat terganggu, Hallgrímsson memilih merespons situasi itu dengan tenang. Menurutnya, setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat mereka.

Hallgrímsson: Semua Orang Berhak Menyampaikan Sikap

“Semua orang memiliki hak untuk memprotes”, ujar Hallgrímsson seusai pertandingan. Namun, pelatih asal Islandia itu mengakui bahwa penghentian pertandingan berulang kali membuat ritme laga menjadi kurang nyaman, terutama bagi tim pelatih yang sedang fokus memikirkan aspek teknis permainan.

“Hal itu memang sedikit merusak jalannya pertandingan. Jika mereka ingin menghentikan permainan, ya itu pilihan mereka. Dari sisi sepak bola, tentu tidak menyenangkan ketika laga harus berhenti terus-menerus”, katanya.

Hallgrímsson bahkan sempat bercanda bahwa protes tersebut mungkin lebih berguna jika terjadi pada babak kedua ketika timnya sedang berusaha mengontrol tempo pertandingan. “Di babak kedua mungkin kami justru menyukainya karena kami ingin memperlambat permainan”, ujarnya sambil tersenyum.

Kelompok Suporter Palestina Keluarkan Pernyataan

Aksi protes itu dipimpin kelompok “League of Ireland Fans for Palestine”. Seusai pertandingan, kelompok tersebut merilis pernyataan yang menyinggung konflik di Gaza dan dampaknya terhadap dunia olahraga Palestina.

Mereka menyebut lebih dari 1.000 atlet dan pelatih dilaporkan tewas sejak Oktober 2023, termasuk ratusan pesepak bola di Gaza.

Kelompok tersebut juga menegaskan bahwa aksi di Aviva Stadium menjadi bentuk tekanan terhadap FAI dan pemerintah Irlandia agar mempertimbangkan kembali pertandingan melawan Israel pada musim gugur nanti. “Kampanye ini baru dimulai”, tulis pernyataan mereka.

Hallgrímsson Bela Jack Moylan

Selain membahas aksi protes, Hallgrímsson juga menyoroti kartu merah yang diterima Jack Moylan pada akhir babak pertama.

Menurutnya, keputusan wasit Jamie Robinson mengusir Moylan merupakan kesalahan. Sang pelatih menilai pemain mudanya itu sebenarnya tampil sangat baik sebelum insiden terjadi.

“Saya pikir itu keputusan yang salah. Semua orang bisa membuat kesalahan, tetapi situasi itu sangat merugikan Jack”, kata Hallgrímsson.

Ia menambahkan bahwa Moylan berperan penting dalam pressing Republik Irlandia bersama Liam Scales dan Troy Parrott sebelum akhirnya diusir keluar lapangan. Meski bermain dengan 10 pemain, Republik Irlandia tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *