Mataredaksi.com, YOGYAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat Sekolah Lapang Iklim (SLI) agar petani bisa menghadapi perubahan iklim dan risiko gagal panen. Program ini membekali petani dengan pengetahuan serta praktik adaptasi untuk menyesuaikan pola tanam dan mengoptimalkan hasil pertanian.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebut tahun 2024 sebagai tahun terpanas, dengan suhu rata-rata global 1,55 °C di atas era pra-industri. Di Indonesia, suhu rata-rata mencapai 27,5 °C, tertinggi sejak 1981.
“Perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian”, ujar Dwikorita saat membuka SLI Tematik di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Selasa (23/9/2025).
Dalam SLI, petani mempelajari cara membaca prediksi iklim, memilih varietas sesuai musim, menyesuaikan pola tanam, dan memanen air hujan. Metode ini menekan risiko gagal panen, terutama karena titi mongso tradisional kini tidak lagi relevan akibat perubahan cuaca.
SLI Tematik di Gunungkidul diikuti 60 peserta dari kelompok tani, wanita tani, penyuluh, dan petani milenial. Pemerintah daerah dan Bank Indonesia mendukung program ini untuk menjaga pasokan pangan serta mengendalikan inflasi.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, menegaskan, “Program ini membantu petani langsung menerapkan informasi iklim di lahan mereka, sehingga siap menghadapi kekeringan dan hujan ekstrem”.
Dwikorita menambahkan, BMKG ikut mendukung program prioritas nasional ASTA CITA, khususnya swasembada pangan, energi, dan air. “SLI menjadi jembatan antara data iklim dan strategi pertanian. Program ini aksi nyata BMKG memperkuat ketahanan pangan nasional”, tutupnya. (MR-03)






