Mataredaksi.com, SEMARANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan inspeksi dan audiensi ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapan layanan informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami di tengah meningkatnya risiko wilayah pesisir dan perkotaan Jawa Tengah.
Fokus Kesiapsiagaan Wilayah Pesisir
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memimpin langsung kunjungan tersebut. Ia didampingi Deputi Bidang Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan, Direktur Perubahan Iklim Achmad Fachri Radjab, Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Hartanto, serta para Kepala UPT BMKG se-Jawa Tengah.

Rombongan memulai rangkaian kegiatan di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas. Wilayah pesisir ini rawan banjir rob, cuaca ekstrem, serta dinamika laut dan atmosfer yang cepat berubah.
Faisal Fathani menegaskan bahwa peran BMKG tidak berhenti pada penyampaian peringatan dini. Menurutnya, masyarakat harus memahami dan memanfaatkan informasi cuaca untuk mengurangi risiko.
“Di wilayah seperti Tanjung Emas, informasi BMKG harus sampai, dipahami, dan digunakan untuk menekan potensi dampak. Itu menjadi tanggung jawab kami sebagai institusi negara”, tegasnya dilansir Mataredaksi, Kamis (15/1/2026).

Informasi Iklim Jangka Panjang Jadi Kebutuhan
Deputi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyoroti tingginya sensitivitas pesisir Semarang terhadap perubahan iklim. Ia menilai kenaikan muka air laut dan perubahan pola hujan meningkatkan risiko bagi kawasan padat penduduk.
“Informasi iklim jangka menengah dan panjang kini menjadi kebutuhan nyata, bukan sekadar referensi ilmiah”, ujarnya.
Peran Radar Cuaca dan Stasiun Klimatologi
Selanjutnya, rombongan meninjau Gedung Radar Cuaca. Fasilitas ini menjadi tulang punggung pemantauan hujan ekstrem dan awan konvektif di Jawa Tengah, khususnya untuk mendukung peringatan dini cuaca berdampak di Semarang dan sekitarnya.

Kunjungan kemudian berlanjut ke Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Di lokasi tersebut, Kepala BMKG menegaskan bahwa informasi iklim memiliki peran strategis dalam pembangunan lintas sektor.
“BMKG mendukung sektor pangan, sumber daya air, hingga tata ruang. Karena itu, pengambil kebijakan harus menjadikan informasi iklim sebagai dasar keputusan”, ungkapnya.
Ardhasena menambahkan bahwa BMKG perlu menyajikan analisis iklim secara operasional. Dengan begitu, pemerintah daerah dapat langsung menerapkannya di lapangan.
Penguatan Layanan dan Konsolidasi Internal
Rangkaian inspeksi berakhir di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani. Stasiun ini berperan penting dalam keselamatan penerbangan dan layanan cuaca publik.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BMKG mengapresiasi kinerja UPT sekaligus menekankan pentingnya konsolidasi internal organisasi.
“BMKG yang kuat lahir dari kerja bersama, bukan dari peran individu semata. Organisasi harus bergerak serempak dari pusat hingga UPT”, ujarnya.
Setiap lokasi kunjungan menampilkan paparan singkat kondisi stasiun dari kepala UPT dan dialog terbuka bersama pimpinan serta pegawai. Melalui rangkaian tersebut, BMKG memastikan layanan cuaca dan iklim di Semarang dan Jawa Tengah tetap relevan, adaptif, serta mampu menjawab tantangan perubahan iklim. (MR-01)






