BMKG Ubah Strategi Karhutla, Dorong Pencegahan Berbasis Data Presisi

KEPALA BMKG Dwikorita Karnawati memaparkan strategi antisipasi karhutla berbasis data dan sains dalam Rapat Ekspose Pengendalian Karhutla 2025 yang digelar oleh Kementerian Kehutanan RI, di Jakarta, Senin (13/10/2025). (Sumber foto: BMKG)

Mataredaksi.com, BOGOR – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan bahwa kunci pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terletak pada antisipasi, bukan sekadar pemadaman. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Ekspose Pengendalian Karhutla 2025 yang digelar Kementerian Kehutanan di Jakarta, Senin (13/10/2025).

Antisipasi Lebih Penting daripada Pemadaman

Dwikorita menegaskan, “Kunci pencegahan karhutla bukan hanya pada pemadaman, tetapi pada antisipasi. Dengan pemantauan dan prediksi yang tepat, kita dapat segera melindungi wilayah rawan”. BMKG mendorong pergeseran strategi dari reaktif menjadi sistem berbasis data ilmiah yang presisi.

Integrasi Prediksi Iklim dan Teknologi

BMKG menggabungkan prediksi iklim 10 harian, prakiraan cuaca mingguan dan harian, serta Fire Danger Rating System (FDRS). Dengan cara ini, lembaga bisa mendeteksi wilayah dengan risiko tinggi sebelum api muncul.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Efektif

Sepanjang musim kemarau 2025, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaksanakan 252 sorti penerbangan dan menebar 222 ton bahan semai. Hasilnya, kelembapan lahan gambut tetap terjaga dan karhutla dapat dicegah. Dwikorita menekankan bahwa OMC menjadi bagian dari mitigasi bencana berbasis data.

Kolaborasi Lintas Sektor

Dwikorita mendorong penguatan sistem berbagi data antarlembaga, terutama pemantauan muka air tanah. Selain itu, BMKG mengajak seluruh instansi memperluas jejaring observasi digital hingga tingkat daerah untuk sistem peringatan dini yang lebih komprehensif.

Koordinasi Nasional dalam Pengendalian Karhutla

Rapat yang dipimpin Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan koordinasi nasional penting untuk menjaga ekosistem hutan dan lahan. Kepala BNPB Suharyanto menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci pengendalian karhutla berkelanjutan.

Dwikorita menutup rapat dengan menegaskan komitmen BMKG memperkuat layanan berbasis sains, dari prediksi iklim ekstrem hingga sistem peringatan dini, untuk mendukung ketahanan lingkungan dan melindungi masyarakat dari risiko bencana iklim. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *