Mataredaksi.com, BOGOR – Didier Deschamps telah menorehkan sejarah bersama Tim nasional Prancis. Kini, pelatih berusia 57 tahun itu memburu pencapaian baru pada Piala Dunia FIFA 2026.
Deschamps membawa Prancis melaju ke semifinal setelah mengalahkan Maroko 2-0 pada perempat final, di Stadion Boston, Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat, Jumat (10/7/2026) dini hari WIB.
Les Bleus pun menjaga peluang merebut gelar juara dunia ketiga. Bagi Deschamps, turnamen ini juga menjadi kesempatan untuk menutup masa baktinya dengan pencapaian besar.
Jejak Pengaruh Deschamps di Skuad Prancis
Pria kelahiran Bayonne, wilayah barat daya Prancis dekat perbatasan Spanyol, itu telah menangani tim nasional sejak 2012. Ia menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Prancis.
Deschamps bahkan tercatat menjadi orang kedua yang mampu menjuarai Piala Dunia putra sebagai pemain dan pelatih, mengikuti jejak legenda Jerman, Franz Beckenbauer.
Sebagai pemain, Deschamps mengangkat trofi Piala Dunia bersama Prancis pada 1998. Ia menjadi kapten Les Bleus saat menundukkan Brasil 3-0 pada final di Stade de France.
Prancis kemudian melanjutkan kejayaan dengan menjuarai Euro 2000. Saat itu, Deschamps memimpin generasi emas yang dihuni Zinédine Zidane, Thierry Henry, Emmanuel Petit, Lilian Thuram, Patrick Vieira, dan Fabien Barthez.
Dua dekade kemudian, Deschamps kembali mengangkat Piala Dunia. Kali ini, ia berdiri di tepi lapangan sebagai pelatih ketika Prancis mengalahkan Kroasia pada final Piala Dunia 2018.
Jika Prancis menjadi juara pada 2026, Deschamps berpeluang menjadi pelatih kedua yang memenangi Piala Dunia putra sebanyak dua kali.
Ketangguhan Menghadapi Duka di Fase Grup
Perjalanan Piala Dunia 2026 tidak sepenuhnya mudah bagi Deschamps. Ia sempat meninggalkan skuad Prancis pada laga terakhir fase grup melawan Norwegia setelah ibundanya meninggal dunia.
Dalam pertandingan tersebut, asisten pelatih Guy Stéphan mengambil alih tugas memimpin tim. Prancis tetap melanjutkan perjalanan mereka di turnamen dengan kekuatan penuh.
Deschamps kemudian kembali mendampingi Les Bleus pada fase gugur. Kehadirannya memberi stabilitas bagi skuad yang dihuni perpaduan pemain senior dan talenta muda.
Menjelang perempat final melawan Maroko, Prancis mencetak 14 gol dan hanya kebobolan dua kali. Catatan itu memperlihatkan keseimbangan permainan tim asuhan Deschamps.
Kylian Mbappé memimpin lini depan Prancis dalam persaingan Sepatu Emas. Ia bekerja sama dengan Ousmane Dembélé, Michael Olise, serta Bradley Barcola untuk membentuk serangan berbahaya bagi setiap lawan.
Awal Mula Legenda Didier Deschamps di Level Klub
Didier Deschamps memulai perjalanan profesionalnya bersama Nantes pada 1983. Ia tampil apik untuk tim utama klub tersebut sebelum akhirnya pindah ke Olympique Marseille. Sebagai gelandang bertahan, Deschamps terkenal memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat kuat.
Ia sukses menjadi kapten Marseille ketika klub tersebut menjuarai Liga Champions pada 1993. Gelar bergengsi itu sekaligus menjadikan Marseille sebagai klub Prancis pertama dalam sejarah yang mampu menjuarai Liga Champions.
Deschamps lalu melanjutkan petualangan karier klubnya bersama Juventus pada 1994. Di Italia, ia kembali mengangkat trofi Liga Champions pada 1996 dan membantu Juventus merengkuh tiga gelar Serie A.
Setelah menghabiskan lima musim manis di Turin, Deschamps bermain untuk Chelsea FC pada rentang 1999 hingga 2000. Ia lalu menjalani musim terakhirnya bersama Valencia CF sebelum resmi gantung sepatu pada 2001.
Kapten Jenderal Generasi Emas Prancis
Deschamps menjalani debut bersama Timnas Prancis pada 1989. Ia sempat merasakan masa-masa sulit ketika Prancis gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia 1990 dan 1994. Namun, Prancis kemudian bangkit seiring munculnya generasi pemain baru yang luar biasa berkualitas.
“Tim Ayam Jago” memercayakan ban kapten kepada Deschamps pada 1996, yang kemudian memimpin tim menuju era paling gemilang sepanjang sejarah. Ia mencatat total 103 penampilan bersama Les Bleus dan mengemas empat gol.
Kylian Mbappé baru saja melewati jumlah penampilan Deschamps tersebut saat tampil pada laga perempat final melawan Maroko. Meski demikian, pengaruh besar Deschamps dalam sejarah panjang Les Bleus tetap tidak tergantikan.
Ia menjadi benang merah penghubung antara generasi juara 1998 dengan skuad modern Prancis saat ini. Pengalaman emas itulah yang menjadi modal utamanya saat memutuskan memasuki dunia kepelatihan.
Reputasi Hebat Bersama Monaco, Juventus, dan Marseille
Deschamps tidak membutuhkan waktu lama untuk merintis karier sebagai pelatih top. Ia langsung mengambil pekerjaan besar pertamanya bersama AS Monaco pada 2001.
Secara mengejutkan, ia sukses membawa Monaco menembus babak final Liga Champions 2004, meski akhirnya harus mengakui keunggulan FC Porto pada partai puncak.
Pada 2006, Deschamps berani menerima tantangan berat untuk melatih Juventus. Klub raksasa Italia tersebut sedang berada dalam situasi kritis setelah terseret skandal hebat dan terlempar ke Serie B.
Deschamps berhasil membantu Juventus bangkit dan promosi kembali ke Serie A pada 2007, sebelum ia akhirnya memilih meninggalkan Turin.
Petualangan berlanjut pada 2009 ketika Deschamps kembali ke Prancis untuk menangani Marseille. Ia langsung mengantar klub itu meraih gelar juara Ligue 1 pada 2010, yang sekaligus menjadi gelar liga pertama Marseille dalam 18 tahun terakhir.
Prestasi emas tersebut membuka jalan lebar bagi Deschamps untuk menakhodai Timnas Prancis sejak 2012. Sejak saat itulah, ia membangun Les Bleus menjadi kekuatan yang sangat stabil di berbagai turnamen besar.
Final, Gelar, dan Peluang Emas Mengukir Sejarah Baru
Deschamps sukses membawa Prancis melaju ke final Euro 2016 saat bertindak sebagai tuan rumah, meski Les Bleus akhirnya kalah dramatis dari Portugal pada babak perpanjangan waktu. Kekecewaan besar itu berubah menjadi penebusan sempurna dua tahun berselang.
Prancis menggilas Kroasia dan keluar sebagai juara Piala Dunia 2018. Pada edisi Piala Dunia 2022, Prancis kembali berhasil mencapai partai final. Namun, langkah mereka terjegal lewat drama adu penalti melawan Argentina setelah melewati pertandingan yang sangat epik.
Kini pada tahun 2026, Deschamps kembali membawa Prancis berada di jalur terdepan dalam perebutan trofi. Kemenangan atas Maroko memastikan Les Bleus mencapai babak semifinal Piala Dunia untuk ketiga kali secara beruntun.
Prancis selanjutnya akan menghadapi pemenang laga antara Spanyol melawan Belgia. Jika mampu melewati semifinal dan partai puncak, Deschamps bakal menutup masa baktinya bersama Les Bleus dengan gelar juara dunia kedua sebagai pelatih.
Perjalanan luar biasa Deschamps membuktikan bahwa ia bukan sekadar mantan kapten juara dunia, melainkan seorang arsitek genius yang sukses menjaga Prancis tetap berada di puncak tertinggi sepak bola dunia. (MR-01)







