Ekspor Tuna Indonesia Tembus US$1 Miliar, Hilirisasi Dorong Pertumbuhan

Ilutrasi - Aktivitas di pabrik pengolahan tuna untuk kebutuhan ekspor. Indonesia mencatat ekspor tuna menembus lebih dari US$1 miliar pada 2025, didorong hilirisasi dan inovasi produk bernilai tambah. (Sumber foto: ytimg.com)

Mataredaksi.com, JAKARTA – Industri tuna Indonesia masih membuka ruang pertumbuhan yang besar. Tren ekspor yang terus naik dalam beberapa tahun terakhir mendorong optimisme pelaku usaha terhadap masa depan sektor ini.

Pada 2025, nilai ekspor tuna Indonesia menembus lebih dari US$1 miliar. Namun, pelaku industri menilai Indonesia belum mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi dari komoditas tersebut.

Hilirisasi Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Pelaku usaha mencatat sebagian besar hasil tangkapan tuna masih dijual dalam bentuk mentah. Selain itu, industri belum mengoptimalkan bagian non-prime tuna untuk produk bernilai tambah tinggi.

Kondisi ini mendorong industri mempercepat strategi hilirisasi, keberlanjutan, dan inovasi produk agar nilai ekonomi setiap ikan meningkat. Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling, menegaskan industri perlu bergerak ke arah pemanfaatan berbasis nilai.

Ia menyebut banyak bagian ikan masih belum dimanfaatkan secara optimal. “Saat ini, 40 hingga 50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi”, kata Thilma dalam Tuna Talks 2026 bertajuk From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future, beberapa waktu lalu.

Ekspor Tumbuh Stabil, Pasar Utama Tetap Kuat

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor tuna Indonesia tumbuh sekitar 7,46 persen pada periode 2021–2025. Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi tiga pasar utama.

Ketiga negara tersebut menyumbang sebagian besar nilai ekspor tuna nasional yang mencapai US$1,038 miliar pada 2025.

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, Ari Satria, menilai capaian ini menunjukkan posisi strategis Indonesia di rantai pasok global. Ia juga menekankan peluang pertumbuhan masih terbuka lebar.

“Nilai ekspor yang telah melampaui 1 miliar dolar AS menunjukkan sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global”, ujar Ari.

Produk Olahan Makin Mendominasi Pasar

Tren ekspor kini bergerak dari komoditas mentah menuju produk olahan. Produk seperti tuna fillet dan olahan siap konsumsi mulai mendominasi pasar ekspor.

Pemerintah memperkuat arah ini melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional untuk menjaga keberlanjutan.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Abd Raup, menegaskan pemerintah menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan daya saing industri.

“Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global”, ujarnya.

Digitalisasi Dorong Efisiensi Industri

Transformasi digital mulai masuk ke sektor perikanan tuna. Teknologi kecerdasan buatan dan sistem digital membantu pengumpulan data perikanan secara lebih cepat dan akurat.

Perwakilan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Shinta Yuniarta, menilai digitalisasi memperkuat transparansi rantai pasok. “Hal ini penting untuk memastikan pengelolaan stok ikan yang berkelanjutan sekaligus mendukung transparansi dalam rantai pasok”, jelasnya.

Pemanfaatan 100 Persen Jadi Arah Baru Industri

Pelaku industri kini mengembangkan konsep 100 persen utilization atau pemanfaatan seluruh bagian tuna. Selama ini, bagian seperti kulit, tulang, dan sisik belum banyak digunakan. Padahal, bagian tersebut menyimpan potensi ekonomi tinggi.

Industri mulai mengolahnya menjadi kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi. Founder dan CEO Collabit, Michella Irawan, menilai pendekatan ini membuka peluang baru di sektor pangan dan kesehatan.

“Kami melihat potensi besar dari pemanfaatan tuna secara menyeluruh, termasuk melalui pengembangan kolagen yang dapat diaplikasikan dalam berbagai produk pangan dan kesehatan”, ujarnya.

Riset dan Inovasi Jadi Penentu Masa Depan

Pasar global kolagen diperkirakan menembus US$9 miliar pada 2030. Pelaku industri menilai riset dan inovasi akan menentukan arah pengembangan tuna Indonesia.

Science Advisor Tuna Consortium sekaligus Chair Tuna Talks 2026, Budy Wiryawan, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains.

“Dengan inovasi dan riset, kita dapat memperluas pemanfaatan tuna jauh melampaui konsumsi pangan. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan resonansi kebudayaan kelautan”, kata Budy. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *