Mataredaksi.com, BOGOR – Pemerintah Kabupaten Solok bergerak cepat menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan yang melanda wilayahnya. Lewat koordinasi langsung dengan pemerintah pusat, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berhasil menurunkan hujan dan menekan risiko bencana lebih lanjut.
Hujan yang mengguyur Kabupaten Solok sejak awal Agustus ini menjadi tonggak penting dalam upaya mitigasi karhutla di Sumatera Barat. “Alhamdulillah, perjuangan kita ke BNPB berbuah hasil. BMKG telah melaksanakan modifikasi cuaca dan hujan pun mulai turun”, kata Bupati Solok Jon Firman Pandu, Minggu (3/8/2025).
Hujan Ringan hingga Sedang Bantu Petani
BMKG mencatat curah hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mengguyur sejumlah wilayah terdampak. Turunnya hujan meringankan dampak kekeringan ekstrem yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian mulai merasakan manfaat langsung dari langkah ini. Pasokan air bersih juga mulai pulih. Banyak masyarakat mengisi kembali sumber air tanah dan kolam tadah hujan yang sebelumnya mengering.
92 Kejadian Bencana, Didominasi Karhutla
Selama Januari hingga pertengahan Juli 2025, BPBD Kabupaten Solok mencatat 92 kejadian bencana, dan 83 di antaranya merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sisanya mencakup dua kasus kebakaran rumah, enam pohon tumbang, serta satu kejadian angin puting beliung.
BMKG juga melaporkan bahwa wilayah ini mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan, menjadikannya salah satu daerah dengan tingkat kekeringan tertinggi di Sumatera Barat.
Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Solok menetapkan status tanggap darurat karhutla. Bupati Jon Firman Pandu secara langsung menemui pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta untuk melaporkan kondisi di lapangan dan meminta dukungan teknis.
Menanggapi laporan itu, BMKG bersama BNPB menggelar Operasi Modifikasi Cuaca selama lima hari di dua kabupaten prioritas: Solok dan Limapuluh Kota.
Sinergi Pusat-Daerah Beri Hasil Nyata
Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Dedi Kurniawan, menyebut keberhasilan operasi ini sebagai bukti kuat kolaborasi lintas pemerintah. Ia menyatakan bahwa modifikasi cuaca menjadi langkah mitigasi yang tepat dalam menghadapi bencana berulang akibat perubahan iklim.
“Modifikasi cuaca ini kami lakukan secara intensif setelah berkoordinasi erat dengan pemda. Pelaksanaannya menyasar wilayah prioritas yang paling terdampak”, jelas Desindra.
Pemerintah Kabupaten Solok juga terus memantau cuaca harian dan siap melanjutkan upaya kolaboratif jika kondisi darurat belum mereda.
“Dengan turunnya hujan, kita sangat bersyukur. Ini menjadi harapan baru bagi petani dan masyarakat yang terdampak”, ujar Bupati Jon menutup pernyataannya. (MR-01)






