“Semua ini hanya dapat tercapai apabila kita secara bersamaan membangun lima bentuk modal, yaitu finansial, manusia, institusional, infrastruktur, dan modal kewirausahaan”
Mataredaksi.com, Jakarta – Untuk mencapai target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan sebesar 5,4 persen dan menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045. Indonesia perlu meningkatkan laju pertumbuhan produktivitas nasional dari rata-rata 3,1 persen menjadi 4,9 persen per tahun.
Demikian laporan The Enterprising Archipelago (Kepulauan yang Wirausaha): Propelling Indonesia’s Productivity yang diterbitkan oleh McKinsey Global Institute.
Laporan itu juga menyoroti pentingnya menciptakan kondisi yang memungkinkan enterprising Indonesia, yaitu ekosistem yang mendukung pertumbuhan produktivitas melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi, dan penguatan lima bentuk modal: finansial, manusia, institusional, infrastruktur, dan kewirausahaan.
Forum untuk para eksekutif bertajuk Sustainable Success: Balancing Growth and Agility yang digelar Shell Indonesia menyoroti tantangan dan peluang dalam mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian dinamika global.
Indonesia perlu mendorong transformasi struktural yang terarah melalui pertumbuhan jumlah perusahaan produktif berskala menengah dan besar, penguatan kapabilitas sumber daya manusia, serta percepatan investasi jangka panjang di bidang infrastruktur dan teknologi.
Seluruh upaya ini sejalan dengan semangat enterprising Indonesia, yang mendorong terbentuknya ekosistem bisnis yang adaptif, kolaboratif, dan tangguh dalam menghadapi dinamika global.
Partner & Leader of People & Organizational Performance Practice Southeast Asia, McKinsey & Company, Phillia Wibowo menegaskan, bahwa visi tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan mengakselerasi penciptaan nilai tambah.
“Mewujudkan Indonesia sebagai negara maju menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Diperlukan transformasi menyeluruh yang mencakup penguatan struktur bisnis nasional, perluasan perusahaan yang produktif, serta peningkatan nilai tambah per tenaga kerja”, kata Phillia Wibowo.
“Semua ini hanya dapat tercapai apabila kita secara bersamaan membangun lima bentuk modal, yaitu finansial, manusia, institusional, infrastruktur, dan modal kewirausahaan”, lanjut Phillia Wibowo.
Pengusaha dan pemandu acara podcast Endgame, Gita Wirjawan menambahkan, bahwa keterbukaan terhadap ide dan kolaborasi lintas sektor merupakan kunci dalam mewujudkan visi Indonesia menuju 2045.
“Inovasi memerlukan keterbukaan baik terhadap teknologi, gagasan lintas sektor, maupun perspektif global. Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, bangsa yang mampu membangun resiliensi melalui tata kelola yang adaptif dan investasi pada kualitas sumber daya manusia akan lebih siap menangkap peluang di tengah krisis”, tutur Gita.
Sementara itu, Andri Pratiwa, Managing Director Lubricants, Shell Indonesia menyoroti peran aktif Shell Indonesia dalam mendukung visi tersebut melalui upaya yang bisa dilakukan sebagai perusahaan energi.
“Shell Indonesia percaya bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang relevan, kemitraan strategis, serta kesiapan menghadapi dinamika perubahan. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi pelanggan dan mitra industri melalui solusi yang meningkatkan kelincahan sekaligus kinerja bisnis di berbagai kondisi pasar”, jelas Andri.
Sebagai salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut, Shell Indonesia, telah memulai pembangunan Pabrik Manufaktur Gemuk (Grease), di Marunda, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Sebelumnya, Shell Indonesia juga menambah kapasitas produksi Pabrik Pelumas (Lubricants Oil Blending Plant) menjadi 300 juta liter per tahun. (MR-1)






