Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, mengakui masalah terbesar timnya bukanlah Como 1907, melainkan kondisi mental mereka sendiri. Setelah kekalahan 0-2 di Allianz Stadium, ia menilai krisis kepercayaan diri menjadi akar dari performa buruk Bianconeri.
Hasil tersebut membuat Juventus hanya meraih satu poin dari lima laga kompetitif terakhir. Situasi ini memperpanjang tren negatif yang sebelumnya juga diwarnai kekalahan dari Inter Milan dan Galatasaray Spor Kulübü.
Berbeda dengan dua laga tersebut yang diwarnai kartu merah, kekalahan dari Como terjadi akibat kesalahan elementer. Gol Mërgim Vojvoda dan Maxence Caqueret lahir dari rapuhnya lini belakang serta momen kurang sigap di bawah mistar.
“Performa kami juga dipengaruhi oleh gol pertama. Insiden seperti itu memang mengubah jalannya pertandingan”, ujar Luciano Spalletti kepada DAZN Italia dilansir Mataredaksi, Minggu (22/2/2026).
Ia menilai timnya berusaha merespons dengan meningkatkan tekanan individu. Namun, Como mampu mengendalikan tempo lewat penguasaan bola dan kualitas distribusi yang lebih rapi.
“Kami terlalu sering kebobolan lebih dulu. Ketika itu terjadi 13 kali dalam satu musim, Anda pasti membayar mahal dalam jangka panjang”, tegas Allenatore berumur 66 tahun itu.
Krisis Mental dan Tekanan Hasil
Spalletti melihat masalah ini bukan semata teknis, tetapi psikologis. Ia menyebut ada fase ketika Juventus bermain penuh antusiasme dan percaya diri. Namun, ketika momentum itu hilang, kesalahan kecil menjadi mahal dan sulit diperbaiki.
“Semua ini tentang kepercayaan diri. Saat keyakinan itu turun, rasa otoritas di lapangan ikut menghilang. Saya melihat umpan-umpan salah yang biasanya tidak pernah terjadi”, kata Spalletti.
Tekanan dari hasil buruk sebelumnya turut membebani para pemain. Menurutnya, beban mental itu membuat tim kesulitan bereaksi ketika tertinggal.
Ejekan keras dari suporter di peluit akhir menjadi bukti frustrasi publik Turin. Sebagian penonton bahkan meninggalkan stadion sebelum laga usai.
Tanggung Jawab Kolektif
Sorotan juga tertuju pada Michele Di Gregorio yang kembali kebobolan dari tembakan pertama tepat sasaran lawan—fenomena yang sudah terjadi 13 kali musim ini. Namun, Spalletti menolak menyalahkan sang kiper secara individual.
Spalletti Bela Di Gregorio
“Di Gregorio tidak punya tanggung jawab lebih besar dari yang lain. Dia memang melakukan kesalahan, tetapi back-pass ceroboh dan kehilangan bola saat build-up juga berperan. Kami semua harus bertanggung jawab”, tegas Spalletti.
Ia menolak menunjuk satu pemain sebagai kambing hitam. Menurutnya, kesalahan muncul dari rangkaian keputusan di lapangan, bukan dari satu momen saja.
Krisis Cedera Bukan Alasan
Juventus bermain tanpa Pierre Kalulu yang menjalani skorsing. Gleison Bremer, Emil Holm, Dušan Vlahović, dan Arek Milik masih menjalani pemulihan cedera. Jonathan David belum mencapai kondisi terbaiknya.
Selain itu, Manuel Locatelli akan absen saat menghadapi AS Roma karena akumulasi kartu. Meski daftar absensi cukup panjang, Spalletti tidak menjadikannya tameng.
“Lawan kami dalam situasi ini adalah diri kami sendiri. Jika kami memperbaiki aspek psikologis dan teknis, kami tetap bisa bersaing. Namun jika ini level kami, kami akan terus kalah dan tak pantas berbicara soal ambisi”, ujarnya.
Ujian Karakter Juventus
Ucapan Spalletti menegaskan bahwa pembenahan mental menjadi pekerjaan rumah utama. Dalam sepekan ke depan, Juventus harus merespons situasi ini saat menghadapi Galatasaray SK dan AS Roma.
Laga-laga tersebut akan menguji karakter tim. Jika para pemain bangkit dan menunjukkan reaksi nyata, krisis ini bisa menjadi titik balik. Namun bila performa datar terus berlanjut, tekanan terhadap Spalletti dan skuadnya akan semakin besar. (MR-03)






