Ekonom Dorong BI Naikkan Suku Bunga untuk Redam Tekanan Rupiah

Ilustrasi - Logo Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, Jakarta. (Sumber foto: Istimewa)

Rupiah Terus Tertekan

Mataredaski.com, JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat sejumlah ekonom meminta Bank Indonesia (BI) mengambil langkah lebih agresif. Salah satu opsi yang muncul ialah menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Teuku Riefky, menilai pelemahan rupiah mulai meningkatkan risiko imported inflation. Kenaikan harga impor bahan baku, pangan, dan energi dapat mendorong tekanan harga di dalam negeri.

LPEM UI Usulkan Kenaikan BI Rate

Riefky meminta BI menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya. Jika BI menjalankan langkah tersebut, maka BI Rate akan naik menjadi 5,00 persen.

“Kenaikan suku bunga dapat memperkuat daya tarik aset domestik dan menjaga arus modal asing”, ujar Riefky dalam keterangan dikutip Mataredaksi, Selasa (19/5/2026).

Ia mengakui kenaikan bunga berpotensi menahan pertumbuhan kredit. Namun menurutnya, risiko itu masih lebih ringan dibanding dampak pelemahan rupiah yang berlangsung terlalu lama.

Inflasi Masih Terkendali

Data April 2026 menunjukkan inflasi nasional berada di level 2,42 persen secara tahunan. Angka itu turun dari 3,48 persen pada bulan sebelumnya. Posisi tersebut masih berada dalam target BI sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.

Meski begitu, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi perhatian utama pasar. Dalam empat bulan terakhir, BI menghabiskan lebih dari US$10 miliar cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Konsumsi dan Investasi Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan global, ekonomi domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.

Belanja pemerintah juga melonjak 21,81 persen karena program Makan Bergizi Gratis dan pencairan Tunjanan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain itu, investasi atau PMTB tumbuh 5,96 persen dan ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Mirae Asset Prediksi BI Tahan Suku Bunga

Pandangan berbeda datang dari Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto. Ia menilai tekanan terhadap rupiah belum cukup kuat untuk memaksa BI menaikkan suku bunga.

Rully memperkirakan BI tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. “Kami memperkirakan BI tetap menahan suku bunga sambil agresif melakukan intervensi pasar valuta asing”, kata Rully.

Faktor Musiman Dinilai Jadi Pemicu

Rully melihat tekanan rupiah lebih banyak muncul akibat faktor musiman. Ia menyoroti repatriasi dividen dan meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang musim haji. Menurutnya, tekanan tersebut kemungkinan mulai mereda pada Juli hingga Agustus mendatang.

Intervensi Pasar Jadi Andalan

Rully juga menilai BI masih bisa menjaga stabilitas pasar lewat kebijakan non-suku bunga. Ia menyebut instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia(SRBI), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan intervensi cadangan devisa tetap efektif menjaga likuiditas dan kestabilan pasar.

Pelaku pasar kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Republik Indonesia yang dinilai akan memberi arah baru bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *