UECL 2025/2026: Iñigo Pérez Terpukul, Rayo Vallecano Gagal Wujudkan Mimpi Eropa

Kecewa – Pelatih Rayo Vallecano, Iñigo Pérez, berjalan melewati trofi UEFA Conference League 2025/2026 usai timnya kalah 0-1 dari Crystal Palace pada laga final di Stadion Red Bull Arena Leipzig, Sachsen, Jerman, Kamis (28/5/2026) dini hari WIB. Kekalahan tersebut menggagalkan ambisi klub asal Madrid itu meraih gelar Eropa pertama dalam sejarah mereka. (Sumber foto: @HQpcrt/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – Kekalahan tipis dari Crystal Palace pada final UEFA Conference League 2025/2026 meninggalkan luka mendalam bagi Rayo Vallecano. Klub asal Madrid, Spanyol itu harus mengubur mimpi meraih trofi Eropa pertama setelah takluk 0-1 di Stadion Red Bull Arena Leipzig, Sachen, Jerman, Kamis (28/5/2026) dini hari WIB.

Gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada awal babak kedua menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan penuh tekanan tersebut.

Pelatih Rayo Vallecano, Iñigo Pérez, tidak menutupi rasa kecewanya usai laga. Namun, di tengah kesedihan yang menyelimuti timnya, ia justru memberikan penghormatan besar kepada para pemain yang dinilainya menunjukkan kebersamaan luar biasa sepanjang musim.

“Ini adalah masa-masa sulit bagi semua orang. Ada rasa sakit, dan kami harus melewatinya sebaik mungkin”, kata Pérez usai pertandingan.

Pelatih asal Navarra itu mengaku suasana ruang ganti setelah laga menjadi salah satu momen paling emosional yang pernah ia alami selama berkarier sebagai pelatih.

Menurutnya, rasa kecewa semakin terasa ketika melihat para pemain saling menguatkan di tengah tangisan akibat kegagalan meraih gelar juara yang sudah begitu dekat.

“Itulah yang terjadi ketika kamu kalah dan kemenangan sudah sangat dekat. Yang paling menghancurkan hati adalah melihat orang-orang menangis sambil mencoba saling menyemangati”, ujar Pérez.

Rayo Kesulitan Keluar dari Tekanan

Pérez menilai faktor emosional ikut memengaruhi performa timnya di lapangan. Ia menyebut para pemain tidak tampil sebebas biasanya karena tekanan besar final Eropa.

Meski demikian, Pérez tetap mengakui Crystal Palace tampil lebih baik secara taktik sepanjang pertandingan. “Aspek emosional sedikit menghambat kenyamanan kami sebagai tim. Namun, saya tidak ingin menjadikannya alasan. Mereka unggul secara taktik dan pantas mendapatkan kemenangan”, tuturnya.

Menurut Pérez, pertandingan berjalan sangat hati-hati pada babak pertama karena kedua tim sama-sama berusaha menghindari kesalahan fatal.

Situasi berubah pada awal babak kedua ketika Crystal Palace mencetak gol kemenangan melalui Mateta. Gol tersebut disebut Pérez memberi pukulan besar terhadap mental para pemainnya.

“Babak pertama berlangsung ragu-ragu. Kedua tim tidak ingin melakukan kesalahan. Lalu sebuah momen terisolasi mengubah pertandingan dan gol itu menghantam kami dengan keras”, katanya.

Meski sempat kesulitan bangkit, Rayo Vallecano tetap berusaha memberikan perlawanan hingga akhir pertandingan.

Pérez menilai timnya perlahan mampu keluar dari tekanan emosional, walaupun gagal menciptakan peluang yang cukup untuk menyamakan kedudukan.

Pérez Bangga dengan Ruang Ganti Rayo

Terlepas dari kegagalan meraih trofi, Pérez mengaku sangat bangga terhadap karakter dan hubungan antarpemain yang terbentuk di skuad Rayo Vallecano musim ini.

Ia bahkan menyebut kelompok pemain yang dimilikinya sebagai salah satu yang paling istimewa sepanjang kariernya di sepak bola.

“Kelompok seperti ini sangat sulit ditemukan. Mereka saling menghormati, saling membantu, saling menyemangati, dan saling memaafkan. Semua kualitas itu sangat langka”, ucap Pérez.

Pérez juga menegaskan dirinya belum ingin membahas masa depan bersama Rayo Vallecano setelah final tersebut.

Menurutnya, saat ini perhatian utama harus diberikan kepada para pendukung klub yang ikut merasakan kekecewaan akibat kegagalan di partai puncak. “Tidak pantas membicarakan masa depan saya sekarang. Saat ini waktunya memikirkan para penggemar Rayo”, pungkasnya. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *