Mataredaksi.com, BOGOR – Tim nasional Argentina memastikan tiket ke babak gugur Piala Dunia FIFA 2026. Kepastian ini lahir setelah mereka menundukkan Austria dengan skor 2-0 pada laga kedua Grup J di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (23/6/2026) dini hari WIB.
Kemenangan di stadion megah beratap yang dapat ditarik (retractable roof) ini sekaligus menjadi malam bersejarah bagi Lionel Messi. Sang kapten resmi menorehkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen ini lewat gelontoran satu gol di setiap babak.
Tambahan dua gol tersebut membuat koleksi gol Messi di Piala Dunia mencapai 18 gol dari total 28 pertandingan. Catatan impresif ini membuat penyerang Inter Miami C.F. tersebut unggul dua gol dari pemegang rekor sebelumnya, Miroslav Klose (16 gol).
Hasil ini menempatkan Argentina di puncak klasemen Grup J dan membuat mereka hampir mengamankan posisi pertama. La Albiceleste akan mengonfirmasi status juara grup tersebut dengan satu pertandingan tersisa, jika Yordania gagal mengalahkan Aljazair pada laga lain.
Jika Argentina berhasil finis di puncak klasemen, mereka akan menghadapi runner-up Grup H di Miami Stadium, Florida pada Sabtu, 4 Juli 2026. Skenario ini membuat sang juara bertahan terhindar dari bentrokan prematur melawan sesama tim favorit, Spanyol, di babak 32 besar.
Sebaliknya, Austria asuhan Ralf Rangnick tetap berada di posisi kedua grup dan harus menentukan nasib mereka pada laga penentu pekan ketiga melawan Aljazair.
Kegagalan Penalti Tidak Menghentikan Dominasi Messi
Messi tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan membuat sejarah. Lewat serangan pertama yang berarti, Lautaro Martínez melakukan gerakan berputar yang tajam di dalam kotak penalti. Pemain Inter Milan itu kemudian terjatuh setelah mendapat tekanan ketat dari duo bek Austria, Xaver Schlager dan Stefan Posch.
Wasit Amin Omar awalnya tidak terpengaruh oleh insiden tersebut. Namun, sang pengadil lapangan akhirnya menunjuk titik putih setelah Video Assistant Referee atau VAR memanggilnya untuk meninjau monitor di pinggir lapangan.
Kesempatan itu membuka jalan bagi Messi untuk mencetak sejarah lebih cepat. Akan tetapi, pada menit kesembilan, sang megabintang justru menendang penalti dengan santai hingga bola melenceng jauh dari tiang kiri gawang. Kegagalan ini langsung memicu selebrasi emosional dari kiper Austria, Alexander Schlager.
Meski gagal dari titik putih, Argentina terus menekan. Kombinasi ciamik antara Alexander Schlager dan kapten Austria, David Alaba, harus bekerja ekstra keras untuk menggagalkan peluang jarak dekat Messi.
Penyelamatan itu lahir dari sebuah kerja sama apik lini depan Argentina yang melibatkan Lautaro Martínez. Tidak lama setelah itu, bek Austria juga memblokir peluang berbahaya lain milik Martínez yang mengarah tepat ke gawang.
Gerakan Tipuan Almada dan Gol Bersejarah Sang Kapten
Namun, barisan pertahanan Das Team – julukan Timnas Austria – tidak mampu menghentikan kejeniusan Messi lebih lama lagi. Gemuruh penonton di Stadion Dallas akhirnya pecah pada menit ke-38.
Messi dan bintang Atlético Madrid, Thiago Almada, mengawali proses serangan dengan membangun kerja sama yang apik. Sesaat kemudian, Facundo Medina mengirimkan umpan silang akurat dari sisi kiri pertahanan lawan.
Almada kemudian melakukan gerakan tipuan (dummy) yang sangat tepat waktu dengan membiarkan bola melewati dirinya. Ruang kosong yang tercipta langsung mempermudah Messi untuk melepaskan tembakan klasik dengan kaki kirinya.
Bola meluncur mulus ke sudut bawah gawang dari dalam kotak penalti tanpa mampu dijangkau oleh Alexander Schlager. Gol indah ini resmi membawa Argentina unggul 1-0 sekaligus mengantarkan sang kapten ke puncak sejarah sepak bola dunia.
Laga Ke-100 Sabitzer dan Perlawanan Austria
Memasuki babak kedua, Austria mencoba tampil lebih agresif demi mengejar ketertinggalan. Kiper Argentina, Emiliano Martínez, akhirnya harus jatuh bangun saat menepis eksekusi tendangan bebas dari Marcel Sabitzer.
Laga ini sendiri menjadi momen emosional bagi Sabitzer karena ia resmi menjadi pemain Austria keempat yang berhasil meraih 100 caps (penampilan internasional).
Austria kembali mengancam melalui skema serangan udara. Namun, penyerang Michael Gregoritsch gagal memanfaatkan peluang emas dari sundulannya untuk menyamakan kedudukan.
Meski lawan mulai berani keluar menyerang, kemenangan Argentina jarang meragukan. Organisasi permainan yang solid dari anak asuh Lionel Scaloni membuat pertandingan semakin minim aksi berbahaya di depan gawang Emiliano Martínez saat memasuki fase-fase akhir babak kedua.
Tembakan Kedua Messi Mengunci Kemenangan
Saat pertandingan memasuki masa tambahan waktu, Messi kembali menjadi penentu kemenangan bagi La Albiceleste. Berawal dari sebuah skema serangan cepat, pemain pengganti Julián Álvarez melepaskan tembakan keras yang sempat dimentahkan oleh Alexander Schlager.
Penyelamatan tersebut justru memicu kemelut hebat di depan gawang Austria. Bola muntah kemudian mengarah kepada Enzo Fernández yang langsung menyodorkannya kepada Messi.
Pada percobaan tembakan kedua, Messi melepaskan tendangan rendah yang merobek jala gawang Austria pada menit kelima injury time (90+5′). Gol ini mengunci kemenangan mutlak 2-0 untuk Argentina.
Kuasai Sepatu Emas dan Bayangi Rekor Mbappé
Lewat gelontoran dua gol ke gawang Austria, peraih delapan kali Ballon d’Or itu kini memimpin perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 dengan total lima gol. Sebelumnya, Messi sukses mencetak hat-trick ke-11 sepanjang karier internasionalnya untuk Argentina saat mereka melibas Aljazair 3-0 pada pekan pertama.
Di antara pemain aktif yang masih bermain di Piala Dunia, Kylian Mbappé menjadi pesaing terdekat Messi dengan koleksi 14 gol. Penyerang Prancis tersebut dijadwalkan bertanding melawan Irak pada Senin malam.
Persaingan sengit antara Messi dan Mbappé untuk merebut supremasi penyerang terbaik tampaknya akan tetap menjadi topik pembicaraan yang menarik sepanjang sisa turnamen.
Performa luar biasa Messi juga membuatnya menyamai pencapaian para legenda legendaris. Ia kini menjadi pemain ketiga dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak gol dalam enam pertandingan berturut-turut, menyamai rekor Just Fontaine (Prancis) pada edisi 1958 dan Jairzinho (Brasil) pada edisi 1970.
Statistik Unik dari Titik Putih
Menariknya, laga melawan Austria juga menorehkan catatan unik tersendiri. Ini menjadi pertandingan kompetitif pertama Messi bersama Argentina di mana ia tetap sanggup mencetak gol meski sempat gagal mengeksekusi penalti.
Akibat kegagalan di awal babak pertama tersebut, statistik Messi dari titik putih kini bertambah. Sang megabintang tercatat telah mengambil total 7 penalti dan gagal sebanyak 3 kali, menjadikannya pemain yang paling banyak mengambil sekaligus paling banyak gagal mengeksekusi penalti dalam sejarah Piala Dunia.
Namun, penampilan spektakulernya sepanjang laga langsung menenggelamkan cerita kegagalan penalti tersebut. Sepanjang pertandingan, Messi menampilkan performa luar biasa dengan melepaskan tujuh tembakan, sebuah catatan impresif yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat total tembakan milik pemain lain di lapangan.
Lini Pertahanan Argentina Kian Menakutkan
Di balik sorotan tajam terhadap daya ledak Messi, anak asuh Lionel Scaloni juga menunjukkan kekuatan kolektif yang sangat solid di sisi pertahanan. Setelah mencegah Aljazair melakukan satu pun tembakan tepat sasaran di pekan pertama, lini belakang Argentina kembali tampil disiplin saat menghadapi Austria.
Tim lawan hanya mampu mencatatkan satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan, itu pun hanya melalui percobaan tendangan bebas spekulatif dari Sabitzer.
Penampilan tangguh ini memperpanjang rekor positif La Albiceleste di Piala Dunia. Sejak kekalahan mengejutkan dari Arab Saudi pada laga pembuka fase grup edisi 2022, Argentina belum lagi merasakan kekalahan dalam delapan pertandingan Piala Dunia.
Catatan enam kemenangan dan dua hasil imbang menjadi bukti sahih bahwa pasukan Lionel Scaloni masih menjaga mentalitas juara mereka dengan sangat baik. (MR-02)






